Syukurillah Hidup

Oleh: Rifdani Zitanada, Murid kelas 5 RSDBI Al Irsayd Al Islamiyyah 01 Purwokerto.

 
LIBURAN kali ini aku, Nelis, Mbak Zifa, dan Mbak Belsa memiliki rencana pergi ke sebuah toko buku terbesar di kotaku. Di sana kami berencana memebeli sebuah novel. Kami berencana naik angkutan kota. Dengan alasan agar lebih hemat, sebab uang kami terbatas.
 
Karena di sekolahku sekarang sedang trend pinjam-meminjam novel, jadi kupilih novel yang terbaru. Dan kusempatkan untuk membacanya dahulu atau melihat sampulnya agar temanku yang meminjam menjadi tertarik dengan novel itu.
 
Aku pergi berempat. Di sana kami sengaja berlama-lama agar merasa lebih yakin dengan novel yang akan dibeli. Setelah lama memilih, akhirnya aku memutuskan untuk membeli dua buah novel anak. Aku memilih novel yang harganya tidak mahal.
 
Setelah membayarnya, aku menunggu Mbak Belsa yang sedang bingung. Ia memegang banyak sekali judul novel. Aku pun hanya geleng-geleng kepala.
 
“Ya, Allah, Mbak, kenapa begitu banyak novel di tangan?”
Mbak Belsa tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya garuk-garuk kepala menandakan ia sedang bingung. “Aku tahu, Mbak Belsa pasti sedang bingung hendak memilih novel yang mana?” sergahku. Aku langsung saja menunjuk dua buah novel tebal yang sedang dipegang Mbak Belsa.
”Ini bagus,” kataku memberikan saran.
“Baiklah, akan aku beli. Mudah-mudahan hanya novel ini yang aku beli.”
“Maksudnya?” aku dibuat bingung dengan kata-katanya.
“Yah…kaya kamu nggak tahu sifatku saja.” Jawabnya santai.
 
Aku paham dengan maksud kata-katanya. Yah, inilah sedikit sifat jelek Mbak Belsa, jika sudah masuk ke toko buku, maunya semua buku diborong. Tak peduli ia memiliki uang lebih atau tidak. Aku melihat di kasir sebelah, Nelis memegang empat buah buku. Sedikit aku merasa iri padanya.
 
“Mba Zifa, sebenarnya aku tidak puas membeli satu novel saja. Aku ingin seperti Nelis.” Kataku cemburu.
“Mbak Sifa paham akan kecemburuanmu pada Nelis. Tapi ini tidak boleh kamu biarkan. Zita tahu tidak, kalau Nelis telah menghabiskan semua uang sakunya untuk membeli novel-novel itu. mungkin tidak masalah baginya, sebab orang tuanya kaya. Meskipun begitu, kamu tidak boleh seperti itu.”
“Jadi, Nelis menggunakan semua uang untuk persediaan selama Ia di Purwokerto?” tanyaku. Kasihan sekali orang tuanya, batinku.
“Zita tahu tidak, anak jalanan yang suka meminta-minta?” tanya Mbak Belsa. Aku menggeleng tanda tidak tahu.
“Nah, dari mereka Zita bisa belajar, bahwa novel itu bukan segalanya. Coba Zita berpikir sejenak tentang anak-anak jalanan,” mbak Belsa merangkulku. Kami terdiam agak lama.
 
“Untuk makan saja mereka susah. Apalagi untuk membeli novel. Mereka masih membutuhkan uluran tangan,” aku mendengar mbak Belsa menarik nafas panjang. “Ayah Zita bekerja, ibu Zita juga bekerja. Jadi, Zita termasuk orang yang mampu. Sementara mereka, hanya bisa meminta dan meminta. Apakah itu pekerjaan yang layak untuk anak seusiamu, Zita? Seharusnya mereka bisa belajar di sekolah seperti Zita.” Mbak Belsa membimbingku menuruni tangga. Aku terdiam. Kumasukkan kata-kata Mba Zifa ke dalam hati.
 
“Zita, juga bisa melihat bagaimana baju mereka, tempat tinggal mereka, dan cara mereka bekerja? Anak yang mampu, orang tua mereka yang bekerja mencari nafkah, membayar sekolah, menghidupi kita dan membelikan apa saja yang kita inginkan. Sedangkan mereka? Makan saja susah. Kadang mereka berpuasa dan belum tentu mampu untuk berbuka. Yang mereka pikirkan bagaimana cara mendapatkan uang? Kadang mbak Zifa berpikir mengapa mereka harus meminta-meminta, dan harus berada di jalanan yang panas, kotor dan bising? Mungkin hidup tidak adil. Tapi mau bagaimana lagi? Tak ada yang mau menganggap mereka. meskipun begitu, mereka tetap berjuang dan tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik. Mereka tidak pernah menyerah sedikitpun. Walau debu, panas, hujan, penyakit dan apapun, mereka tetap yakin pada diri mereka. Jika mereka tak pantang menyerah, suatu saat nanti pasti akan menajdi orang yang sukses.”
 
Aku semakin dalam meresapi kata-kata mbak Zifa.
“Kamu tidak perlu seperti Nelis. Justru kamu harus rajin menabung untuk masa depan. Zita harus jadi orang yang hebat dan jadi orang besar,” kata Mba Zifa sambil mengusap rambutku.
 
Hatiku semakin terketuk. Aku berpikir, andai aku yang menjadi anak jalanan seperti mereka, mampukah aku? Aku pun mencoba sadar bahwa yang kumiliki sekarang ini hanya bersifat sementara dan tidak abadi. Tak terasa air mata pun sudah mengalir di pipiku.
 
Aku sekarang semakin sadar apa artinya hidup. Walau lima huruf tapi sangat banyak maknanya.  Rumit Meskipun hanya lima huruf saja, namun begitu rumit untuk dijalani. Tak ada yang mampu mengubah takdir yang telah ditentukan oleh sang pencipta.
 
Aku melamun di sepanjang perjalanan. Tiba-tiba aku menabrak seorang anak. Sepertinya aku sudah tidak asing lagi dengan wajah anak itu. Yah, aku tahu. Anak itu adalah anak yang suka meminta-minta di persimpangan jalan yang aku lewati setiap pulang sekolah.
 
Aku melihat wajahnya terlihat cemberut dan menunjukkan amarah yang teramat sangat. Aku memerhatiakan ia dengan seksama. Lalu kulihat ke bawah. Ternyata uang koin yang telah ia kumpulkan jatuh berantakan. Aku merasa bersalah.
 
“Maaf. Biar aku saja yang mengambilnya.”
“Terimakasih.” Jawabnya singkat.
“Sama-sama.” Kami saling diam. “Namamu siapa?” tanyaku.
“Liza.” Jawabnya singkat, padat, dan jelas.
“Kamu siapa?” tanyanya malu-malu.
“Oh, perkenalkan. Namaku Zita. Itu uang kamu?”
“Iya.” Jawabnya tak berbasa basi.
“Kok koin semua?” tanyaku heran.
“Ini uang hasil ngamen.”
 
Aku menjadi paham mengapa uangnya koin semua. “Koin sebanyak itu, kamu peroleh dalam berrapa hari?” tanyaku heran melihat satu kaleng besar uang koin.
 
“Satu minggu?!” tanyaku heran. “Memang pekerjaanmu apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Aku sebenarnya sudah tahu apa pekerjaannya, namun aku ingin mendengar langsung dari bibirnya.
“Aku ngamen di persimpangan jalan itu,” tunjuknya pada sebuah persimpangan jalan raya besar.
“Oh begitu. Boleh ku bantu?”
“Membantu apa? Kamu kan bukan siapa-siapanya aku.”
“Semua orang itu sama. Tidak boleh dibeda-bedakan. Tidak memandang kaya atau miskin, kita tetap harus saling tolong.” kataku sambil tersenyum.
“Tapi…aku tidak enak.”
“Sudahlah, Liza. Aku tahu keadaanmu. Mendingan kamu mengantar aku saja menuju rumahmu. Biar uangmu aku yang bawa.”
“Terimakasih ya, Zita. Kamu adalah orang yang pertama kali membantuku.”
“Sama-sama,” jawabku. Aku menggandeng tangan Liza. Saat hendak berangkat, sebuah suara mengejutkanku. Ternyata ia adalah mbak Zifa. Mbak Zifa mengajak aku untuk makan bersama di rumah makan.
 “Aku menyusul,Mbak.” Kataku dengan keras. Lalu aku menggandeng tangan Liza. Kami berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit menuju rumahnya.
“Aku malu mengajakmu ke rumah. Rumahku jelek.”
“Tidak apa-apa...” Kataku membujuk.
 
Akhirnya Liza mengajakku ke rumahnya. Alangkah kagetnya aku setelah melihat rumah Liza.  Rumahnya tak berdinding permanen. Tidak ada pintu dan jendelanya. Persis seperti gubuk pak tani di sawah. Atapnya dilapisi plastik. Mungkin plastik itu dimanfaatkan untuk menadah air hujan agar tidak masuk ke rumah saat hujan turun.
 
“Ini benar rumahmu?” Tanyaku setengah tidak percaya.
“Ya, ini rumahku. Sangat jelek, bukan?”
“Tidak kedinginan tinggal di rumah ini?”
“Yah, adanya seperti ini. Mau bagaimana lagi,” katanya pasrah.
 
Hatiku seperti teriris melihatnya. Tak terasa air mataku menetes. Aku berpikir keras untuk membantunya. Aku tidak ingin melihatnya terus-menerus menahan dinginnya angin malam, panasnya matahari siang, dan ganasnya gigitan nyamuk malam. Aku memutar otakku agar menemukan ide. Akhirnya aku menemukan ide jitu. Aku teringat akan usaha orang tuaku.
 
“Kamu bisa menjahit?”
“Bisa,” jawabnya.
 
Mendengar jawabannya, perasaanku melambung. Hatiku gembira. Mungkin ini jalan untuk merubah nasib hidupnya.
“Toko milik mama sedang membutuhkan tukang jahit. Kalau kamu bisa menjahit, aku akan ngomong ke mama agar kamu diperbolehkan bekerja di sana.”
“Tapi jahitanku masih jelek.”
“Tidak masalah. Nanti kalau sudah terbiasa akan menjadi bagus.”
Aku melihat sedikit harapan di sorot matanya dan rona merah pipinya. Namun harapan itu sebentar saja hilang dari raut mukanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Tidak mungkin aku bekerja di sana. Kondisiku tidak memungkinkan.” Aku mencari-cari apa penyebabnya ia tiba-tiba berkata begitu. Beruntung aku segera paham.
“Jangan khawatir. Aku akan bilang ke bapak dan ibu.”
“Terimakasih ya, zita. Kamu memang orang baik.”
“Sama-sama.”
 
Aku melihat hari sudah semakin siang. Aku segera berpamitan dan langsung menyusul nelis, Mbak Zifa, dan Mbak Belsa. Aku melihat mereka tengah asyik menikmati makan siang..
 
“Mana makananku?!” sergahku. Mbak Belsa langsung menunjuk pada satu porsi makan siang. Aku langsung duduk dan membuka kotak makan siangku. Dengan lahap aku memakannya.
 
Setelah selesai makan, kami langsung pulang. Sesampainya di rumah, aku bercerita kepada ibu dan bapak tentang kejadian siang hari ini. Aku melihat bapak dan ibu tertegun dan bangga kepadaku. Aku juga mengutarakan niatku untuk menolong Liza pada mereka.
 
“Bagaimana, Pak, Bu?”
 
Aku melihat bapak dan ibu berpikir panjang, namun akhirnya mereka menyetujuinya. Aku sangat senang. Aku memeluk bapak dan ibu. Setelah itu, kami langsung menuju gudang belakang rumah untuk membereskan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Gudang ini akan disulap menjadi ruangan untuk Liza nantinya.
Dari sini aku jadi berpikir bahwa kita harus mensyukuri hidup yang sudah dimiliki. Sebab di sana masih banyak orang yang lebih susah dari pada kita. Meskipun kita terkadang tidak sesuai dengan yang diharapakan, kita harus tetap bersyukur. Sebab hidup itu adalah anugerah tuhan. Kita juga harus saling tolong entah itu miskin atau kaya. Kemiskinan bukan halangan kita untuk menolong sesama. []

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more