Si Gundul Hilal
Oleh : Qomaruddin, Humas LPP Al Irsyad Purwokerto
“Wah ada murid baru! Kelas akan jadi tambah ramai nih, Asyik!” seru beberapa murid kelas 3 SD Al Irsyad. Tampaknya kabar akan hadirnya murid baru sudah meluas. Murid-murid pun tampak penasaran seperti apa wajah si murid baru.
Bel masuk kelas berbunyi. Segera saja murid-murid bergegas duduk rapi di bangku kelas masing-masing. Sesaat setelah itu tampak terlihat Ustadz Yahya menggandeng seorang murid masuk kelas.
“Itu dia murid barunya” bisik beberapa murid menduga-duga. Ya memang tak mungkin salah lagi karena baru kali ini ada murid dengan kepala pelontos alias gundul. Samar-samar mulai terdengar tawa geli dari beberapa murid, rupanya kepala pelontos si anak baru membuat mereka teringat pada tokoh Pak Ogah dalam cerita Si Unyil.
Sementara itu, si murid baru mulai mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri.
“Hilal nama saya, Hilal Ramadhan!” si murid baru tampak bersemangat, “Mulai sekarang saya ingin berteman dengan kalian semua!”
Tiba-tiba ada yang bertanya “Hilal kenapa kepalamu gundul?”, hampir semua murid langsung tertawa. “Iya, jadi mirip Pak Ogah!” sahut yang lain.
Hilal yang sebelumnya terlihat bersemangat mendadak menjadi lesu, wajahnya murung. Buru-buru ustadz Yahya menenangkan kelas, “Anak-anak, ayo yang sopan pada teman baru kalian!”.
Perkenalan itu tidak berjalan baik. Rupanya teman-teman baru Hilal lebih senang memanggilnya gundul. “Gundul !, si gundul!” begitulah teman-temannya memanggilnya. Kadang ada juga yang memanggilnya “Pak Ogah!”. Hilal pun semakin sedih.
Apalagi rupanya tidak hanya teman sekelasnya saja yang memanggilnya Si Gundul, adik kelas dan kakk kelas pun ikut memanggilnya Si Gundul. Esok harinya, Hilal jadi malas masuk kelas. Dia terlihat gelisah dan tidak betah di sekolah. Meskipun demikian, Hilal berusaha menahan kesedihannya karena dia tahu teman-temannya cuma bercanda.
Hari ketiga dan keempat masih dilalui Hilal dengan menahan diri. Tetapi di hari kelima rupanya Hilal sudah tidak tahan dipaggil dengan julukan Si gundul.
Saat hampir semua murid sedang asyik menikmati jajanan kantin tiba-tiba terdengar hingar bingar di sudut kantin, rupanya Hilal baru saja menumpahkan es teh ke baju Maula. Tampak Hilal dan Maula sedang berdiri berhadap-hadapan dengan penuh kemarahan. Hilal tidak terima dipanggil Si Gundul oleh maula, sementara Maula tidak terima bajunya disiram es teh. Suasana pun jadi ramai.
Untungnya ustadz Yahya segera datang. Lalu dibawanya kedua murid ini ke ruang ustadz Bakri, kepala sekolah.
Keduanya pun mengakui kesalahannya, Maula mengakui telah membuat marah Hilal dengan memanggilnya Si gundul, lalu Hilal pun mengakui kesalahannya menumpahkan es teh ke baju Maula. Mereka pun saling meminta maaf dan bersedia menjadi teman yang baik.
Sejak hari itu, Maula menjadi sahabat sekaligus pelindung bagi Hilal. Siapa pun yang memanggil Hilal dengan julukan Si Gundul akan ditegur oleh Maula, bahkan dia siap mengadukan kepada kepala sekolah.
Senin pagi saat upacara pada pekan berikutnya, Ustadz Bakri yang berdiri di depan seluruh murid tiba-tiba memanggil Hilal untuk berdiri di sebelahnya. Lalu Ustadz Bakri memulai tausiah paginya :
“Murid-murid yang sangat saya sayangi, sungguh bahagia hati ini melihat ada teman baru di antara kita, inilah Hilal Ramadhan. Sayangnya, Hilal harus menanggung malu dan sedih gara-gara banyak yang memanggilnya Si Gundul” kata ustad Bakri memulai.
“Tahukah kalian, bahwa mengolok-olok itu dilarang oleh Allah SWT? Sebab barangkali mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka yang merendahkan” lanjutnya mengutip QS Al Hujurat : 11.
“Muhammad Rasulullah saw pun berkali-kali mengingatkan bahwa : Sesungguhnya Allah tidak melihat wajah kalian dan harata kalian, tetapi Allah melihat hati kalian dan amal kalian,” tambahnya mengutip hadis rasul riwayat Muslim.
“Dalam riwayat Thayalisi dan Ahmad diceritakan, pernah suatu ketika Ibnu Mas’ud menyingsingkan betisnya dan tampaklah betis kakinya begitu kecil. Maka tertawalah sebagian orang, lalu Rasulullah bersabda : Apakah kamu menertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud, demi Allah yang diriku berada dalam kekuasaanNya, bahwa kedua betisnya itu timbangannya (keutamaannya) lebih berat daripada Gunung Uhud.”
“Karena itu mulai sekarang marilah saling menyayangi teman-teman kita, mulailah saling memanggil dengan nama-nama yang baik, hindari saling mengejek, hindari saling menertawakan kekurangan yang lain. Karena kita adalah bersaudara, bila salah satu diantara kita bersedih, maka semuanya patut untuk ikut bersedih. Kalau kita mendapat kebahagiaan mari kita ajak teman-teman kita untuk ikut berbahagia.”[]
Rujukan : Yusuf Qardhawi, 1997. Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah








