Saya Bangga menjadi Gurunya
Oleh : Suhairi Umar, S.Pd.I, Kabid Kesiswaan LPP Al Irsyad Purwokerto
SAYA tidak akan pernah melupakan murid yang satu ini. Murid kebanggaan sekaligus idola bagi saya. Dia banyak memberikan pelajaran berharga buat gurunya khususnya saya. Wajahnya yang berseri-seri ditambah senyumnya yang lebar membuat saya selalu ingin bertemu. Ucapan salam yang tulus dan jabat tangannya yang erat begitu ikhlas dan bermakna seakan akan mengajari saya (ustadznya) begitulah akhlak seorang muslim ketika bertemu. Tutur katanya sopan dan bersahaja mudah dipahami dan tidak ada kesan kesombongan sama sekali. Jujur, Rendah hati dan selalu ingin berbagi.
Ketika dia masih duduk di kelas dua SD akhlak terpujinya sudah tumbuh bersemi. Salah seorang guru PAI-nya menceritakan kepada saya. Siang itu dia tampak menikmati makan siangnya dengan lauk ikan teri yang kelihatan menggugah selera. Dengan maksud bergurau guru itu berkata “enak sekali makannya, ustadz kalau di beri lauk ikan terinya pasti tidak nolak”. Dengan wajah tersenyum keesokan harinya ia menenteng sebungkus ikan teri yang sudah matang dan siap makan diserahkan kepada gurunya itu. Ia gembira sekali melihat gurunya menerima dengan wajah senang. Ia senang jika orang lain senang karena dia.
Kejadian masih di kelas 2 SD dan dari guru yang sama menceritakan kepada saya. Suatu saat guru itu menyampaikan khutbah jum’at di sebuah masjid milik instansi pemerintah. Selesai membaca dzikir ba’da sholat jum’at murid ini segera bangkit dari sebelah ayahnya dan segera menuju ke shaf pertama untuk menyalami gurunya yang menjadi khatib sekaligus imam tadi. Dengan senyum khasnya yang tulus dia mengucapkan salam dan menyalami gurunya sambil berkata “Ustadz nama saya Adib murid kelas 2 SD Al Irsyad 02.”
Sebelumnya guru tersebut kurang begitu mengenal muridnya yang satu ini sebab muridnya berjumlah ratusan. Tapi dengan kejadian itu dia tidak akan pernah lupa terhadapnya. Dia tidak akan pernah lupa dengan ke-PD-an dan sikapnya yang sopan dan terbuka. Meskipun ia baru kelas dua SD tapi tanda-tanda kematangan emosional dan sosialnya sudah terlihat dengan jelas.
Cerita berlanjut pada dua tahun kemudian saat si Adib telah duduk di kelas 4. Guru yang sama bercerita, suatu ketika murid ini terlihat sedih dan kebingungan. Ia duduk di depan meja kantin sambil memegangi jajan yang belum habis di tangannya. Padahal sebelumnya ia terlihat begitu periang. Tapi siang itu tampak berbeda dari biasanya. Segera guru itu menghampiri seraya bertanya ”Mas kenapa kok tampak bingung dan gelisah? dan makanan itu kenapa belum dihabiskan?”. Dengan muka sayu ia berkata ”Ustadz beberapa hari yang lalu saya membeli jajan ini harganya masih Rp. 500 tapi sekarang sudah Rp. 1000 dan uang saya tinggal Rp 500, saya takut menghabiskan jajanan ini karena uang saya kurang”. Dengan penuh haru dan bangga dengan kejujuran muridnya itu guru tersebut melunasi kekurangan di kantin sekolah.
Kecerdasan itu apa?
Bagaimana menurut anda apakah murid diatas termasuk anak cerdas? Menurut saya ia cerdas. Sebagian orang mungkin mengatakan murid cerdas jika rapotnya rata-rata Sembilan koma. Tetapi murid ini tidak seperti asumsi umum, nilainya pas-pasan bahkan mungkin cenderung kurang. Tapi bagi saya ia tetap murid cerdas.
Saya mencoba menelusuri makna cerdas yang sesungguhnya dari berbagai perspektif. Referensi awal saya ambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di sana cerdas mempunyai beberapa arti. Pertama adalah sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan tajam pikirannya). Kedua sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat): biarpun kecil badannya.
Penemuan modern mengatakan ada delapan atau sembilan macam kecerdasan. Intelektual, sosial, interpersonal, bahasa, musikal, dan sebagainya. Tapi apakah benar demikian? Delapan atau Sembilan macam kecerdasan itu yang mengatakan adalah orang non muslim. Kita coba menggali dari sumber agama kita apa yang dimaksud dengan cerdas itu? Rasullulah saw.pernah bersabda ”Bahwa orang cerdas adalah dia yang bisa menjaga hawa nafsunya dan berbuat kebaikan untuk bekal setelah kematian, sedangkan orang bodoh atau lemah fikirannya adalah dia yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap kebaikan dari Allah.” Lalu bagaimana menurut anda? []








