Remaja selalu cemas?

Oleh : Teguh Susila, S.Psi, PJ BK SMA IT Al Irsyad Purwokerto

Beberapa waktu yang lalu RR. Ardiningtyas Pitaloka, M. Psi., psikolog bidang sosial dari Universitas Indonesia membuat pernyataan bahwa “Remaja selalu dalam kecemasan”.
Hal yang serupa pernah pula diungkapkan oleh Jeffrey Jensen Arnett, Ph.D Profesor Riset di Departemen Psikologi di Universitas Clark di Worcester, MA, dimana pada masa remaja itu terdapat beberapa tantangan yang setiap hari harus dihadapinya. Mulai dari konflik dengan orang tua, perubahan mood yang cepat, dan perilaku-perilaku yang beresiko.

Konflik dengan orang tua
Konflik ini tentu tidak asing bagi remaja. Setiap hari ada saja sesuatu yang harus di selesaikan bersama. Perdebatan yang terjadi seringkali dikarenakan cara pandang yang berbeda antara kedua belah fihak. Ketidak sepahaman antara orang tua–remaja bagaimanapun juga akan mengakibatkan perasaan yang tidak nyaman pada keduanya. Kecemasan, kebingungan, dan kekalutan karena ide-ide, keinginan, dan pendapatnya yang tidak di terima oleh orang tua akan melanda remaja.

Perubahan mood yang cepat
Apa maksudnya? Perubahan mood ini ditandai dengan rasa bosan yang seringkali melanda remaja, sehingga terdengar ungkapan, “bosan ah… itu-itu saja” atau yang lebih seing “bete niih…” Keadaan seperti ini akan menimbulkan kecemasan. Mengapa? Karena mood akan mempengaruhi memori kita.

Disini terdapat dua mekanisme yaitu: yang pertama disebut dengan mood dependent memory, dimana suatu informasi atau relita yang ada menimbulkan mood tertentu. Kalau informasi atau realita yang ditemukan oleh remaja tidak begitu baik maka akan terjadi bad mood yang ditandai salah satunya adalah kemurungan dan kecemasan biasanya menyertainya.

Yang berikutnya dikenal dengan mood Congruence effect, pada saat mood sedang baik terdapat kecenderungan untuk mengingat informasi positif, sebaliknya informasi negative akan lebih diingat ketika mood sedang buruk. Begitu seseorang mengingat informasi negatif datanglah perasaan tidak nyaman, rasa was-was, dan kecemasan.

Remaja adalah orang super nekat sedunia, seringkali tindakannya tidak dipikirkannya. Hayo ngaku aja… Kenekatan dipicu oleh keinginan yang besar untuk mencoba. Kenekatan akan melahirkan tindakan dan hasil yang tidak pasti. Perilaku nekat dengan hasil yang tidak jelas berpeluang besar meningkatkan kecemasan pada remaja. Iya kan?

Jadi sekarang jelaslah sudah beberapa hal yang menjadi penyebab dan mengakibatkan kecemasan yang dirasakan oleh seorang remaja.

Selanjutnya bagaimana cara pencegahan dan menyikapi kecemasan yang dirasakan?

Penting untuk diketahui bahwa menurut Vasey dan Daleiden kecemasan itu berada pada pikiran seseorang, dimana seseorang tersebut biasanya selalu melihat ketidakberhasilan akan usaha yang dilakukannya. Selain itu orang tersebut menganggap dirinya mempunyai “madesu” alias masa depan suram. Orang seperti ini sering membayangkan ketidakjelasan hasil pada masa depan.

Apa yang harus dilakukan remaja dalam mengelola kecemasan?
1. Dalam menghadapi suatu ketidakpastian remaja sebaiknya menghadapinya dengan lebih. Maksudnya adalah remaja harus lebih bersabar, berusaha mencari alternatif – alternatif, kemungkinan – kemungkinan atau peluang yang ada, dan berfikir positif. Hal ini dikarenakan jika remaja tidak bersikap toleran terhadap ketidak pastian pemikirannya akan terpengaruh. Lebih jauh akan berakibat pada emosi dan perilaku.
2. Remaja harus meyakini bahwa perasaan cemas itu akan membawa seseorang kepada hasil yang positif seperti solusi yang lebih baik dari suatu masalah, meningkatkan motivasi pemecahan masalah, dan mencegah juga meminimalisir hasil negatif. Dengan keyakinan ini ternyata akan membantu remaja dalam menghadapi rasa katakutan dan kegelisahan. Ini berdasarkan penelitian lho.
3. Selanjutnya, dalam menghadapi suatu masalah, seyogyanya remaja selalu berorientasi pada hal - hal positif. Mengapa demikian? Karena jika seorang remaja berorientasi negatif terhadap suatu masalah maka akan selalu berfikir bahwa masalah adalah suatu ancaman, memandangnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dipecahkan, serta meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah. Lebih jauh lagi menjadi merasa frustrasi ketika masalah muncul dan akan sangat terganggu ketika suatu masalah muncul. Silahkan para remaja mau pilih yang mana mau positif thinking atau negative thinking terhadap suatu masalah.

Teman-teman remaja, selanjutnya kita akan membahas tentang konsep diri sebagai salah satu sarana menghadapi kecemasan. Pencarian identitas adalah salah satu ikon pada masa remaja. Pencarian identitas remaja tidak akan jauh-jauh dengan self concept yang sudah ada ataupun yang sedang terbentuk. Konsep diri merupakan cara pandang individu terhadap dirinya sendiri. Menurut Rogers, konsep diri yang kuat bisa mendorong seseorang menjadi fleksibel dan memungkinkan dia untuk berkonfrontasi dengan pengalaman atau ide baru tanpa merasa terancam.

Baiklah teman-teman remaja, silahkan kelola diri dalam menghadapi kecemasan. tidak ada keberhasilan tanpa usaha, tidak ada sukses tanpa perjuangan. Seperti dalam pepatah arab “Tarjunnajata walam tasluk masalikaha fainna assafinata latajri ‘alal yabas” sesungguhnya perahu itu tidak berjalan di atas daratan. Maksudnya kesuksesan itu harus ada jalannya yaitu berusaha. Selanjutnya setelah kita berusaha kita juga harus selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt., karena hanya pertolongannyalah kita bisa terbebas dari kecemasan yang dirasakan. Semoga bermanfaat.

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more