Pendidikan Kejujuran Langkah Awal Memberantas Korupsi

OLEH : Suhairi Umar, Staff Litbang LPP Al Irsyad Purwokerto

Harian Nasional Republika Rabu 10 Maret 2010 sekilas tampak hadir menyapa para pembaca seperti biasa, segar, lengkap dan meghibur, namun jika kita mengamati lebih seksama edisi hari itu ibarat buku yang penuh dengan informasi dan edukasi yang begitu dalam bagi pembacanya.

Tidak bosan bosannya saya membolak balik setiap lembar yang ada seperti membaca serangkain pesan moral tentang kejujuran dan transparansi yang dikemas dalam bentuk berita, opini, dan ilustrasi. Di kolom hukum terlihat mendominasi gambar ketua mahkamah konstitusi melaporkan gratifikasi ke KPK dilanjutkan pada kolom opini tentang moralitas pemimpin dan pada kolom didaktika diangkat berita tentang doa bersama anak sekolah menjelang UN. Tidak berhenti disitu di kolom akademia dimuat tentang pakta kejujuran kepala sekolah dalam pelaksanaan ujian nasional.

Fenomena yang menyejukkan dimana semua orang berlomba-lomba untuk mengedepankan kejujuran dan transparansi yang tinggi. Ini lembaran yang bagus untuk ditularkan kepada seluruh Bangsa Indonesia agar lebih sejahtera dan terbebas dari jerat korupsi.

Memang sepuluh tahun terakhir pemberitaan tentang praktek korupsi begitu banyak bertebaran di koran, radio, televisi, bahkan sampai obrolan di warung kopi. Korupsi diartikan sebagai “Perbuatan yang merusak atau penyelewengan dengan memakai untuk kepentingan sendiri barang atau uang yang ada di bawah pengawasannya, menerima sogokan atau menggelapkan” (Badudu-Zain, kamus umum bahasa Indonesia).
Melihat fenomena praktek korupsi yang melanda para pejabat kita, sebagian masyarakat sempat berkelakar “jika diadakan lomba donor anggota tubuh maka yang paling bagus organ tubuhnya adalah organ tubuh para koruptor, mata mereka jarang melihat kelaparan dan kemiskinan yang melanda, telinganya tertutup dari rintihan kaum papa, hati koruptor masih orisinil karena jarang merasakan penderitaan rakyat jelata.

Berbeda halnya dengan Umar bin Khattab yang menangis tersedu-sedu ketika mendengar laporan seekor keledai tergelincir dan jatuh gara-gara jalan yang dilewati rusak berat di kota Bangdad Irak. Beliau pun pernah memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada keluarga miskin yang ia lihat sendiri sedang memasak batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan.

Pendidikan Kejujuran

11 April 2010 di Pendopo Wakil Bupati diselenggarakan seminar nasional tentang urgensi pendidikan kejujuran sejak dini untuk memberantas korupsi. Seminar yang diisi oleh pejabat KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ini membuktikan komitmen kuat Al Irsyad Purwokerto khususnya SMA untuk senantiasa menjadi teladan dalam pendidikan karakter terutama sifat jujur dan transparan terhadap amanah yang dibebankan seperti yang dicontohkan oleh para khalifah Islam jaman dulu seperti Umar bin Khattab r.a. Guru dan siswa senantiasa menyadari bahwa prestasi sejati bukan hanya meraih medali namun lebih dari itu yakni aplikasi dari ilmu yang telah dipahami.
Rasulullah pernah bersabda; ”Kejujuran akan selalu menolong kalian” hadits ini begitu relevan untuk zaman kapanpun termasuk era sekarang. Kejujuran dalam mengelola Negara akan menolong bangsa keluar dari keterpurukan dan mengangkatnya keatas langit kemakmuran. Kejujuran dalam berdagang akan membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi pelakunya dan juga orang lain.

Umar bin Khattab manjadi salah satu contoh manusia yang terdidik hati dan mentalnya. Ia dididik oleh Rasulullah yang memberikan contoh langsung bagaimana mengelola negara dan masyarakat dengan pendekatan iman, amanah dan kejujuran sehinggga menghasilkan pemerintahan yang gemilang di zamannya dimana saat itu Islam terbentang luas dari Yaman, sampai Iraq dan Mesir saat ini.

Dalam Hadits yang lain Rasulullah bersabda: ”Sesungghnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga”(al hadits).

Surga tempat yang penuh kenikmatan dan kedamaian. Dunia pun akan diliputi dengan kemakmuran dan kesejahteraan jika kejujuran menjadi karakter dasar dan perilaku penghuninya. Tapi sebaliknya jika yang terjadi justru korupsi, penyelewengan dan penggelapan maka lihatlah Indonesia di masa kini, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Di sudut Bumi nun jauh disana ada suatu Negara yang memiliki klub sepak bola yang kekayaannya melebihi kekayaan satu bahkan gabungan beberapa Negara di Afrika. Di tempat lain gaji seorang pemain sepak bola bisa mencapai 1,3 triliun setiap pekan. Sementara di Afrika terdapat sekelompok penduduk yang untuk makan sehari hari bergantung dari bantuan PBB.

Kesenjangan ini menginspirasi seorang pemain bola profesional muslim asal Afrika yang peduli terhadap nasib bangsanya dengan menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk membantu masyarakat miskin di Negaranya.

Berbuat Untuk Negeri

Tanggal 2 Mei momentum penting bagi bangsa Indonesia. 2 Mei dijadikan sebagai hari Pendidikan Nasonal bertepatan dengan hari lahirnya salah satu tokoh pendidkan kita yaitu Ki Hajar Dewantara dengan nama asli: Raden Mas Soewardi. Perjuangan beliau untuk memajukan pendidikan tidak pernah surut bahkan terasa sampai saat ini. Dengan motto “Tut Wuri Handayani” pemerintah terus berusaha keras untuk memajukan pendidikan di Indonesia diantaranya dengan ditetapkannya anggaran 20% dari APBN untuk pendidikan dan juga diberlakukannya ujian secara nasional untuk siswa SLTP dan SLTA atau sederajat.

Ujian Nasional sebagai salah satu komponen penting dari sistem pendidikan di Indonesia menyisakan banyak PR dan catatan. Banyak sekali masyarakat dan praktisi pendidikan yang mempertanyakan tentang landasan filosofi, tujuan, biaya yang besar, dan tehnis pelaksanaan. Ditambah lagi dengan kasus kebocoran soal ujian yang selalu merebak beritanya ketika pelaksanaan ujian. Kebocoran soal ujian selalu terjadi karena banyak siswa yang mengambil jalan pintas dengan mencari orang yang bisa membantu mendapatkan kunci jawabaan, ditambah lagi pihak sekolah dan dinas pendidikan terbebani dengan imej dan gengsi daerah jika banyak siswa sekolah didaerahnya yang tidak lulus Ujian Nasional. Fenomena ini disinyalir menjadi pemicu praktek parktek kecurangan atau ketidakjujuran dalam pelaksanaan ujian nasional.

Terlepas dari pro dan kontra ujian nasional, sebagai pelajar muslim kita harus lebih menyadari bahwa manusia dimanapun dan kapanpun pasti akan diuji oleh manusia maupun oleh Sang Pencipta. Menurut Kak Seto Mulyadi (Ketua KOMNAS Perlindungan Anak) Ujian Nasional ibarat “potret pendidikan” sedangkan proses selama belajar seperti “rekaman pendidikan”. Tentu kita lebih mengutamakan “rekaman” dibanding “potret” yang didalamnya menyimpan ribuan file pengalaman belajar yang tak ternilai. Seperti teknik belajar efektif, pembiasaan akhlakul karimah dan keterampilan yang lain. Karena hakekat pendidikan itu adalah perubahan tingkah laku, itu yang kita tuju.

Dengan “rekaman” pendidikan (sikap dan akhlak) yang baik kita pasti mampu melalui ujian apapun bentuknya termasuk ujian nasional dengan percaya diri, jujur dan bisa dipertanggungjawabkan. Inilah investasi untuk negeri di kemudian hari. Kejujuran yang kita pupuk sejak dini suatu saat nanti pasti akan berbuah prestasi bukan hanya untuk diri pribadi tapi juga untuk negeri yang kita cintai. Praktek korupsi pun akan mudah teratasi. Kita berdo’a dan berusaha dengan lebih menitikberatkan kepada pendidikan karakter (diantaranya kejujuran) Allah akan mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang makmur sejahtera, berwibawa, disegani bangsa lain, dan tentunya bisa membantu saudara-saudara kita di belahan dunia yang lain, Amin.[]

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more