Pendidikan anak pada momen silaturahim orangtua
KITA sadari bahwa bermain merupakan bentuk belajar bagi anak. Jika bermain saja merupakan cara belajar maka apalagi suatu kegiatan yang lebih bermakna seperti silaturahim. Hendaknya orangtua tidak melewatkan momen ini sambil menggali nilai pendidikan bagi anak. Karena apa yang didengar, dilihat dan dilakukan anak dapat menjadi pembelajaran positif bagi soft skills anak yang bisa jadi tidak didapatkan pada bangku sekolah. Pembelajaran tersebut memberi manfaat bagi anak ketika mereka berinteraksi dengan masyarakat sekarang ini hingga kelak mereka dewasa. Bahkan nilai pendidikan dalam momen silaturahim bukan hanya didapatkan anak namun juga dirasakan oleh orangtua.
Sayangnya ada orangtua yang menganggap remeh tentang pentingnya momen silaturahim orangtua bagi anaknya (baik usia TK sampai SMA) dengan alasan “Ini kan acara orangtua, tahu apa sih anak-anak ?”. Padahal Nabi Muhammad saw bersabda “Sesungguhnya termasuk sebaik-baik berbakti kepada orangtua yaitu menghubungi kawan-kawan ayahnya, sepeninggalnya”(HR Muslim). Permasalahnnya adalah bagaimana seseorang dapat melaksanakan perintah nabi tersebut manakala ia tidak tahu teman orangtuanya dan sebaliknya mereka tidak mengenalnya?!. Begitu juga tentunya dengan anak kita kelak jika tidak mengenalkan mereka kepada sahabat-sahabat kita.
Di bulan Syawal ini budaya silaturahim marak dilakukan baik antar keluarga, teman sejawat, reuni teman sekolah maupun lainnya. Kalimat yang dilontarkan orangtua ketika membawa anaknya pada acara sialturahim: “Kenalkan ini anak saya, coba nak kamu kenalan sendiri dengan teman ibu” menjadi hal yang bagus dilakukan. Atau bahkan remaja laki-laki sengaja berjabat tangan dengan bapak-bapak sambil mengenalkan namanya dan nama orangtuanya, yang biasanya ditinjaklanjuti dengan tanya jawab. Jadi mereka tidak sebatas berkenalan dengan yang sebaya saja. Setelah pulang dari silaturahim sangat baik orangtua mengevaluasi perkataan dan sikap anak dengan memberi masukan dan pujian sewajarnya.
Selain sebagai sarana mengamalkan hadits Nabi di atas, ada beberapa nilai pendidikan yang diperoleh bagi anak ketika mengikuti momen silaturahim orangtua antara lain :
1. Melatih percaya diri. Ketika anak berhadapan dengan orang dewasa dan berani berinteraksi maka pengalaman itu menjadi cara membentuk percaya diri anak. Dia akan menemukan kemampuan dirinya sekaligus memahami kekurangannya yang kemudian akan belajar memperbaiki.
2. Melatih komunikasi. Menjawab pertanyaan orang dewasa membutuhkan pilihan kata dan teknik tertentu, begitu juga ketika anak melontarkan pertanyaan. Hal ini merupakan praktek yang baik dari pembelajaran komunikasi.
3. Menumbuhkan motivasi internal dari ibroh oranglain. Anak dapat mengambil pelajaran dari kelebihan oranglain untuk meningkatkan dirinya baik dari cita-cita, pengalaman maupun penampilan diri.
4. Belajar sikap yang tepat berinteraksi dengan orang dewasa. Anak akan berusaha memposisikan diri secara tepat kapan ia boleh berinteraksi dan kapan menahan diri pada saat acara orangtua, sebab adakalanya ada pembicaraan yang serius.
5. Meningkatkan daya imajinasi. Anak akan berpikir bermain peran dengan mengandaikan dirinya ketika kelak menjadi orang dewasa, sehingga kelak ketika sudah menjadi orangtua tidak canggung dan dapat berperan aktif dan positif di tengah masyarakat.
6. Tumbuhnya kesadaran sebagai bagian dari masyarakat. Anak akan terbentengi dari sifat ananiyah dan nafsi-nafsi dengan menyadari bahwa hidup merupakan interakasi yang komplek dari individu, keluarga, kerabat dan masyarakat.
7. Networking. Perkenalan demi perkenalan di beberapa kesempatan silaturahim dan dari tahun ke tahun akan menjadi sarana terbentuknya jejaring kerja yang kelak bermanfaat. Sebab anak-anak kita InsyaAllah akan punya peran besar sebagai pemimpin-pemimpin masa depan dengan segala permasalahannya. Networking bukan hanya dalam bisnis tetapi lebih penting lagi dibutuhkan dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar.
Dengan adanya nilai pendididkan pada momen silaturahim, maka hindari menyelenggarakan acara silaturahim formalitas yang berisi parade sambutan, salaman, makan dan pulang. Untuk itu sudahkah kita mengajak anak-anak pada acara silaturahim keluarga, silaturahim ke teman? Atau sudahkah mengusulkan pada silaturahim kantor, reuni atau silaturahim lainnya untuk membawa anak-anak kita? dan mengusulkan kepada panitia agar menyisipi dengan acara bebas yang berisi interaksi dengan anak-anak teman-teman kita ?. []








