Menjadi Orangtua Sesungguhnya

Oleh : Fita Wahyu Hernawati, S.Psi

Adalah sebuah dambaan bagi hampir semua orang tua di dunia untuk memiliki anak yang berhasil, dimana pengertian berhasil disini adalah sukses di sekolahnya, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan keluarga serta patuh kepada orang tua. Namun tidak semua orang tua yang mampu membentuk anak yang berhasil, dan akhir-akhir ini semakin banyak saja orang tua yang merasa kerepotan dengan tingkah laku anaknya. Untuk itulah, sudah saatnya kita para orang tua mencoba untuk introspeksi diri sehingga kita bisa mengetahui apa sebab dan bagaimana jalan keluarnya.

Ingatlah, usia anak antara 0 sampai 5 tahun merupakan usia emas anak dimana apapun yang dialami oleh anak akan yang sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya. Di usia inilah anak akan menyerap semua hal yang dia lihat, dengar dan rasakan tanpa mengerti arti apakah itu bersifat baik ataupun buruk. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan mendasari perkembangan anak di kemudian hari.

Secara teori, ada dua faktor yang mempengaruhi kepribadian anak yaitu :

1. Faktor Internal

Adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri. Faktor ini biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan lahir yang dipengaruhi oleh sifat salah satu orang tuanya ataupun kombinasi dari keduanya.

2. Faktor Eksternal

Adalah faktor  yang berasal dari luar orang tersebut yang dipengaruhi terutama oleh lingkungan tempat dia berinteraksi sehari-hari.

Di antara dua faktor tersebut, faktor eksternal merupakan faktor yang berpengaruh lebih besar terhadap perkembangan anak. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan terkecil, terdekat, dan sangat berpengaruh bagi perkembangan anak karena di lingkungan inilah seorang anak tumbuh dan berkembang. Sehingga dipahami bahwa peran orang tua sangat menentukan pembentukan kepribadian anak. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi orang tua yang mampu mengantar anak-anak kita ke depan pintu keberhasilan, setidaknya ada dua peran penting yang harus kita lakukan. Dua peran itu adalah :

A. Menjadi orang tua sekaligus sahabat bagi anak

Sebagai orang tua kita harus mampu merubah anggapan bahwa anak adalah obyek yang dapat kita doktrin sesuai kehendak kita. Bagaimanapun anak adalah sebuah pribadi yang mempunyai keinginan untuk dimengerti dan didengar, sehingga akan terjadi proses saling memberi dan menerima serta saling menghargai. Kita tidak boleh hanya selalu memberi perintah dan larangan, tapi kita juga harus memberi kesempatan kepada anak kita untuk menjelaskan apa yang diinginkannya dan alasan kenapa dia menginginkan hal itu.

Tentunya jika keinginannya wajar (baik secara norma maupun agama) dan alasan yang dia pakai tepat, maka kita harus berbesar hati untuk meralat perintah kita dan menuruti keinginannya. Begitu pula sebaliknya, jika permintaannya tidak wajar dan alasan yang dipakai tidak tepat, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menolak dan tetap dengan perintah atau nasehat kita serta memberikan penjelasan tentang alasan kita menolak keinginannya.

Proses semacam inilah yang membuat anak belajar saling menghargai, mampu bertangggung jawab serta mengasah kecerdasan si anak. Selain itu kita juga harus menyediakan waktu khusus setiap hari untuk menemani si anak bermain dan belajar secara tulus (yaitu dengan benar-benar melepas segala urusan kita dan benar-benar konsentrasi kepada si anak) meski hanya untuk 1 atau 2 jam saja karena dalam hal ini waktu sedikit tetapi berkualitas lebih berarti dibanding waktu yang panjang/banyak namun tidak berkualitas. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah kita harus berani untuk memaafkan dan meminta maaf. Pembelajaran ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menyesali dan memperbaiki kesalahannya serta belajar untuk bersikap ksatria (berani mengakui kesalahan dan meminta maaf).

B. Menjadi guru yang baik di rumah

Jika anda beranggapan bahwa tanggung jawab pembelajaran ilmu hanya terletak di pihak sekolah (dalam hal ini adalah guru) maupun pihak pendidik lainnya (guru les, lembaga bimbingan belajar, dan lain-lain) maka anda harus bersiap-siap untuk mendapati prestasi si anak tidak akan berkembang maksimal. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran keilmuan harus berlanjut di lingkungan rumah. Kita harus selalu memberikan perhatian mengenai pelajaran-pelajaran yang telah dia dapat di sekolah, membimbing anak dalam  mengerjakan tugas rumah, serta menumbuhkan kebiasaan  anak untuk membaca, karena dengan kemampuan membaca yang lebih cepat, maka si anak akan lebih meningkat tingkat kecerdasannya.

Dengan dua langkah yang sederhana di atas, maka diharapkan kita semua mampu dan siap untuk mendampingi anak-anak kita. Dan perlu diingat lagi bahwa kita harus melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh dan tulus. Semoga Alloh senantiasa memberi kemudahan kepada kita semua untuk mengantarkan anak- anak kita sebagai generasi khoiru ummah. []

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more