Mengapa remaja jatuh cinta?
Oleh : Teguh Susila, S.Psi. PJ BK SMA IT Al Irsyad Purwokerto
Eits, jangan langsung merona begitu dong he he. Masalah seperti ini memang wajib dimengerti, karena seluk beluknya ternyata begitu unik dan istimewa.
Penasaran?
Fase (tahapan) pubertas pada remaja putri umumnya lebih cepat daripada remaja putra. Yakni antara usia 11 sampai 15 tahun, sedangkan remaja putra baru terjadi pada usia 12 tahun sampai dengan 16 tahun.
Apa yang terjadi dengan masa pubertas?
Pada masa ini terjadi perubahan fisik, psikis (kejiwaan), dan fungsi seksual. Pertumbuhan fisik (tubuh) sangat cepat dan tidak beraturan, dan tanda khusus dari pubertas adalah menstruasi pertama (menarche) pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Hal tersebut terjadi karena tubuh sudah memproduksi hormon-hormon seksual sehingga alat reproduksi mulai berfungsi dan tubuh mengalami perubahan. Dalam Islam, puber dapat diartikan dengan baligh dimana seseorang mulai bertanggung jawab secara penuh atas perilaku yang dilakukannya kepada Allah Swt. Hal ini sebanding dengan anugrah Allah Swt. terhadap kematangan akan kepribadian dan cara berfikir yang sudah rasional.
Bagaimana kaitannya masa puber/remaja awal dengan jatuh cinta?
Secara psikis (kejiwaan) banyak hal terjadi pada masa puber ini. Remaja laki-laki mulai memperhatikan tubuhnya dan berharap lebih kekar dan lebih macho. Ada juga yang ingin selalu berpenampilan rapi dan necis. Pubertas juga ditandai dengan menguatnya pertemanan (peer group) dengan obsesi ingin diakui kedewasaannya dan ingin lebih mandiri. Hal lainnya adalah mulai memperhatikan lawan jenis, seperti tampak pada sekelompok remaja putra yang sengaja berdehem (ehem..ehem!) dan bersuit (suit..suit!) saat remaja putri berjalan melewatinya. Wah, gaya seperti ini jangan ditiru ya.
Lalu apa yang terjadi pada remaja putri?
Remaja putri menjadi lebih sensitive (peka) perasaannya, dan ingin diperhatikan oleh lawan jenis. Beberapa remaja putri sering berulah dengan tujuan mencari perhatian. Mereka memerlukan waktu lebih lama untuk berhias diri, serasa semua baju yang dimiliki tidak cocok untuk dipakai. Mulai mencoba obat-obat kecantikan yang dapat membuat diri indah dan cantik. Kemudian ingin dimengerti dan difahami perasaannya oleh semua orang.
Secara umum, ketertarikan pada lawan jenis mulai menguat. Dengan kata lain pubertas ditandai dengan timbulnya rasa ingin dicintai atau disayang oleh lawan jenis yang bukan anggota keluarga. Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dengan teori kebutuhan dasarnya. Bahwa secara hierarki/berurutan pemenuhan kebutuhan seseorang berawal dari kebutuhan fisik, kemudian kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan aktualisasi diri.
Umumnya, kebutuhan fisik dan kebutuhan rasa aman sudah terpenuhi pada setiap remaja. Tersedianya pakaian, makanan, dan tempat tinggal plus kasih sayang orangtua membuat remaja merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya, yakni kebutuhan untuk dicintai dan kebutuhan untuk dihargai. Saat inilah remaja mulai berkelompok dan mulai tertarik dengan lawan jenis.
Selain kondisi mendasar yang terdapat pada setiap individu diatas, faktor pemicu lain yang mendorong remaja saling menyukai adalah berbagai persaman yang dimiliki oleh remaja putra dan remaja putri. Persamaan tersebut bisa terjadi dalam berbagai hal misalnya: karakteristik diri, sikap dan tingkah laku, kesukaan macam pakaian, intelegensi, kepribadian, sikap politik, latar belakang etnis/suku, nilai-nilai, sikap religious/keagamaan, gaya hidup, dan daya tarik fisik.
Tidak cuma itu, hubungan pertemanan dan keakraban dapat menciptakan keadaan yang saling melengkapi seperti memberi dan menerima, menyukai dan disukai. Bak gayung bersambut, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang bila tidak diimbangi dengan berfikir panjang dan matang akan melahirkan falling in love alias jatuh cinta. Hayo!
Haruskah cinta berujung dengan pacaran?
Istilah cinta seolah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Banyak orang bilang “Dengan cinta maka remaja akan menjadi “pintar”, aneh, dan tidak dimengerti” atau “Urusan cinta tidak pupus oleh waktu, ia senantiasa hadir mendampingi kehidupan remaja.” Bagi remaja, cinta sangat asyik untuk dibahas, tidak akan habis untuk dituliskan, tidak akan selesai untuk diceritakan, tidak mudah pula untuk berhenti bila sedang diobrolkan.
Inilah uniknya cinta, ajaib! Oleh karena itu sudah seharusnya remaja mempunyai kepiawaian untuk mengelolanya. Ingat, miskin penetahuan tentang cinta telah membuat remaja salah memaknai cinta. Akibatnya banyak yang menjadi gelap mata dan tersesat. Dikiranya mengkespresikan cinta, ternyata malah mengobral nafsu. Mengharap kebaikan dari cinta, tapi terjerumus ke dalam kemaksiatan. Na’udzubillah mindzalik.
Perlu diketahui bahwa sebenarnya cinta bisa tetap tumbuh dan terpelihara meskipun tidak diekspresikan melalui pacaran. Artinya cinta tidak akan pupus walaup tanpa diwujudkan dengan pacaran. Karena cinta memang berbeda dengan pacaran. Bedanya? Cinta merupakan ekspresi kasih sayang yang kuat, sementara pacaran merupakan maksiat dengan dalih cinta.
Faudzil Adhim dalam bukunya Kupinang Engkau dengan Hamdallah mengatakan “Pacaran hanya akan mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi pacar yang baik bukanlah menjadi istri/suami yang terbaik". Kita tahu bahwa seseorang yang berpacaran akan berusaha sekuat tenaga untuk menutupi kedok mereka. Kelemahan yang dimiliki semaksimal mungkin tidak diketahui oleh pacarnya. Maka lihatlah apa yang terjadi setelah pernikahan, tak jarang sifat-sifat aslinya keluar. Lalu menjadi hambarlah hubungan mereka, dan banyak yang bercerai meski pernikahannya hanya seumur jagung.
Selain itu pacaran akan menimbulkan sifat possessive (rasa memiliki yang tinggi) pada diri individu. Hal ini mengakibatkan rasa cemburu, selanjutnya ketenangan pikiran akan terganggu karena rasa curiga jika pasangan berkomunikasi dengan orang lain. Jika hal tersebut terus terjadi maka seseorang bisa terjangkit paranoid (perasaan selalu curiga). Akibat lanjutan adalah konsentrasi menurun dan akhirnya prestasi belajar dan di bidang lainpun ikut merosot. Siapa yang mau?
Oleh karena itu Islam tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk mencari istri/suami melalui proses pacaran. Betul? Tetapi Islam mengajarkan betapa indahnya sebuah pernikahan yang dilandasi oleh kekuatan cinta kasih kepada Allah SWT.[]
Refferensi:
- Tim BK, Buku Bimbingan Konseling KTSP, 2009
- Santrock John W. Adolescence – Perkembangan Remaja, Erlangga 2003








