Membantu Pemulung, Tak Salah kan…?
Sen, 2010-10-18 11:03 | by redaksi
Oleh : Sallazaria Hanin, Murid kelas 5 RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto, Banyumas.
PELAJARAN disekolah sudah usai, ku langkahkan kakiku menuju rumah. Memang, begitulah aku. Mama-papaku slalu sibuk dikantor, jadi dirumahku tampak sepi.
Kulihat beberapa anak sedang bekerja. Tak lain dan tak bukan mereka adalah anak-anak pemulung.
“Oh...kasihan mereka, mereka sudah menjadi tulang punggung keluarga. Mereka juga tidak diberi pendidikan yang layak.” Entah kenapa kalimat itu ada dibenakku.
Sampainya dirumah, kuganti baju seragamku dengan baju harian.
“Mbak...makannya udah siap?” suaraku yang lantang terdengar jelas di telinga mbak Surti.
“Udah...ayo makan.” mbak Surti membalas pertanyaanku. Selesai makan, aku masuk kekamar dan langsung menulis diaryku.
Dear, diary...
Tadi waktu aku pulang sekolah aku lihat ada anak-anak pemulung yang sedang bekerja, duh... kasihan mereka! Tapi apa yang harus aku lakukan untuk mereka? Sudah dulu ceritaku hari ini. MAKASIH.
Salam, 26-10-2009
Selesai menulis diary, aku berbaring di tempat tidurku sambil menatap langit-langit kamar.
“Hai, mengapa kamu melamun?” tanya mbak Surti membuyarkan lamunanku.
“Nggak kok mbak, cuma...tadi waktu pulang sekolah aku ngliat anak-anak lagi mulung. Kasihan banget, Mbak. Punya usul biar aku bisa nolong mereka?” tanyaku penuh harap.
“Aha, Mbak punya ide! Gimana kalau kamu membuat sekolah kecil buat mereka! Jadi gini, kan mereka ngga sekolah nanti kamu yang mengajar. Tapi ngga pake SPP ya...” Aku berpikir-pikir sebentar...
“Masuk akal mbak! Mbak memang pinter!” teriakku seraya memeluk mbak Surti. Esok paginya mumpung libur kupersiapkan buku ajaran kelas dasar atau kelas 1 SD.
“Mbak, aku pergi dulu ya...” Kataku berpamitan pada mbak Surti.
“Lho, mau kemana? Sarapan dulu!” Teriak mbak Surti. Tanpa sarapan aku terus berlari ketempat kemarin aku melihat anak-anak pemulung.
Hosh...hosh...hosh...” Capek aku! Lho kemana mereka?” Tanyaku heran.
“Apa mereka tidak memulung disini lagi? Atau memang disini sampahnya sedikit?” Tanyaku pada diri sendiri lagi.
Sudah letih mencari kesana kemari, akhirnya aku terbaring di bawah pohon kersem yang rindang
“Kak, permisi...” sura itu membangunkanku dari tidurku yang lelap sedari tadi.
“Oh ya. Kenapa, Dik?” tanyaku lirih pada anak kecil itu
“Kakak bisa bantu aku?”tanyanya lagi. Sontak hatiku berbunga-bunga
“Oh ya, Dik. Kakak bisa bantu.” Jawabku semangat.
Sejak itu, anak-anak pemulung selalu meminta bantuanku. Mulai dari mencari brang bekas hingga mata pelajaran, aku sangat berterimakasih pada mbak Surti yang telah mendukungku
“Ya, semua dapat dilakukan jika ada kemauan dan niat!” Itulah motoku. Tak salah kan bila membantu orang lain? []








