Membangun Visi Anak
“Didiklah anakmu karena dia akan hidup pada jamannya bukan pada jamanmu” (Ali bin Abi Thalib ra)
SETIAP orangtua mesti punya keinginan agar anak-anaknya menjadi anak yang berhasil dan berguna bagi agama dan masyarakat. Namun tidak setiap orangtua melakukan secara sadar dan cerdas memahami dan mengupayakan agar harapan itu terwujud. Padahal sekedar memiliki keinginan adalah mudah, namun bagaimana mewujudkan keinginan adalah membutuhkan proses yang panjang tidak seperti membalik tangan. Adanya kisah orang-orang besar, tokoh atau orang yang berhasil, ternyata tidak lepas dari polesan tangan orangtua. Kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh kehidupan keluarga di masa anak sampai dewasa.
Seorang yang ingin bepergian ke Jakarta tidaklah cukup hanya menuju Jakarta tanpa mengetahui di mana alamat persisnya. Seorang pemanah tentu tidak asal melepaskan anak panahnya tanpa melihat sasaranya. Adalah aneh jika orangtua merasa tentram karena sudah memiliki keinginan agar anaknya baik tanpa ada usaha sadar dan cerdas bagaimana mewujudkannya, sebab siapasih orangtua yang tidak menginginkan anaknya menjadi baik ?.
Membangun visi anak untuk masa depannya merupakan proses panjang. Kisah Luqman dalam Al Qur’an yang berkinginan anaknya baik dibuktikan dengan memberi teladan dan menasehati anaknya. Bahkan Siti Maryam bernadzar bahwa anaknya akan berkhitmad kepada Allah. Bagaimana bentuk masa depan anak di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh keseharian dan sikap hidup orang tuanya. Orang tua harus jeli dalam menyeting masa depan anak. Orangtua yang sering bercerita tentang pilot maka anaknya akan terbangun visi seorang pilot, jika ceritanya tentang kesehatan, maka anak akan terbangun visi dokter atau perawat dst. Anak akan bersikap dan bertindak dengan apa yang menjadi kebiasaan berpikirnya.
Hindari cara-cara buruk yang sering menjangkiti kehidupan manusia-manusia modern yaitu adanya kecenderungan manusia tertarik kepada hal-hal yang serba instant. Ingin memperoleh kekayaan dengan cepat, meraih popularitas dengan cepat, meraih kekuasaan dengan mudah dan cepat, dan lain sebagainya.
Apabila konsep buruk tersebut diperkenalkan dan dipertontonkan kepada anak dalam usahanya meraih masa depan, maka akan berakibat pada pembentukan pribadi yang rapuh. Hidupnya akan digerakkan tanpa visi hidup yang agung dan mulia. Mereka bagaikan akan mengarungi lautan luas tetapi tidak mengenal ke mana seharusnya perahu diarahkan. Mereka nantinya tidak memiliki daya juang dalam meniti kehidupanya karena arahnya tidak diyakini secara jelas.
Ada 3 tipe orangtua berkaitan dengan membangun visi anak :
- Sekedar punya keinginan. Orangtua yang sekedar punya keinginan anaknya baik, sehingga tidak sadar bahwa visi anak perlu dibentuk dan tidak tahu bahwa apa yang dibicarakan dalam keseharian memberi pengaruh terhadap visi anak.
- Sadar tetapi tidak tahu. Orangtua yang menyadari pentingya membangun visi anak namun tidak tahu cara mengajarkan kepada anak. Mungkin karena jarangnya mengaji, membaca, atay mengikuti seminar tentang pendidikan anak, atau waktunya sibuk dengan urusannya sendiri.
- Sadar dan tahu. Orangtua yang menyadari pentingya membangun visi anak dan tahu cara menerapkan kepada anak. Dalam keseharian orangtua sesekali bercerita tentang apa yang harapannya, membimbing anak untuk mendapatkan visi positif sesuai potensi dan minat anak dan perkembangan jaman yang akan datang.
Dengan membangun visi anak, pada saatnya nanti insya Allah akan menjadi kenyataan. Jalan menuju masa depan anak yang terhalang oleh tembok tantangan masa depan yang komplek baik dari teknologi, budaya dan persaingan global akan dapat ditembus dan terbuka lebar oleh visi dan keyakinan anak yang kuat.
Sudahkah kita termasuk dalam tipe orangtua yang sadar dan tahu bagaimana membangun visi anak ?








