Kursi Kosong
Oleh : Parjiyana, S.Pd
Assalamu’alaikum wr wb
Maaf, Pak. Saya mau bertanya kepada bapak tentang perilaku anak saya yang malal membicarakan sekolahnya. Salah satu contoh peristwanya seperti ini:
Ketika kami sekeluarga sedang makan malam, saya bertanya kepada anak saya, Warih namanya.
”Warih, Bagaimana dengan sekolahmu hari tadi?”
“Nggak asyik pokoknya Bu.”
“Kenapa nggak asyik sayang”
“Guru menjelaskannya nggak jelas”
“Kenapa tidak bertanya saja apa saja yang belum jelas?” lanjut Ibu Warih
“Kan sudah ada yang bertanya bu, ngapain aku harus ikut tanya.”
Begitulah pak, kejadian semacam sudah berlangsung agak lama. Saya mohon bantu saya agar bisa mengajari bagaimana agar Warih dapat komunikasi kepada orang lain terutama kepada gurunya saat pembelajaran berlangsung? Karena bagaimanapun sekarang Warih sudah sudah kelas IX SMP.”
Wassalamu’alaikum wr wb
Saudah, San*****@gmail.com
Wa’alaikumsalam wr wb
Bu Saudah yang saya hormati. Keengganan yang ditunjukkan Warih untuk menceritakan aktifitas di sekolahnya sering dijumpai pula pada anak-anak yang lain. Setidaknya banyak email serupa yang masuk ke email saya.
Umumnya, keengganan ini membuat orangtua kesulitan mengukur keberhasilan belajar anak mereka di sekolah, akibatnya sulit pula menentukan bagaimana menentukan pendidikan di rumah yang selaras dengan pendidikan di sekolah. Melalui rubrik konseling ini semoga saya dapat memberikan beberapa alternatif penyelesaian yang dapat ibu praktikan dalam mendidik Warih anak kesayangan Ibu.
Dalam teknik konseling itu terdapat teknik “Kursi Kosong” (Empty Chair). Teknik ini merupakan salah satu teknik konseling Gestalt, dengan tokoh utamanya Frederick Fritz Perls.
Dalam pendekatan ini, murid yang “bermasalah” (konseli) diajak duduk berhadapan atau bersebelahan dengan kursi kosong. Lalu secara betahap konseli diajak untuk membayangkan sedang berhadapan langsung dengan guru atau siapapun yang dianggap menjadi sumber permasalahan dalam diri konseli.
Secara sederhana, teknik ini memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :
- Menekankan pada kesadaran di sini dan sekarang (here and now awareness).
- Diselesaikan dengan aspek ‘what’ and ‘how’ (apa dan bagaimana).
- Kebanyakan digunakan untuk menyelesaikan masalah unfinished business (urusan-urusan yang belum selesai).
- Dilakukan dengan mengutamakan permainan dialog antara konseli yang menggambarkan kekuatan dirinya dengan tuntutan-tuntutan yang didapatnya dari orang-orang yang penting dalam hidupnya.
- Digunakan untuk menyelesaikan intropeksi yang masih tertunda dan belum bisa diselesaikan
- Berusaha untuk meningkatkan kesadaran individu secara penuh dengan mengajak individu mengalami kembali apa yang sebelumnya tidak ingin dialami atau diingkari.
- Konseli diperbolehkan berekspresi seperti apapun terhadap kursi kosong yang diumpamakan sebagai kekuatan top dog dan under dog yang menjadi sumber masalah dalam kehidupannya.
Sementara itu, tujuan diberlakukannya teknik kursi kosong ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
- Mengakhiri konflik-konflik dengan jalan memutuskan urusan-urusan yang tidak selesai yang berasal dari masa lampau konseli.
- Mencegah konseli memisahkan perasaannya, dengan cara membantu konseli menyadari bahwa perasaan adalah bagian diri yang sangat nyata.
- Membantu konseli mengenali introyeksi-introyeksi parental yang tidak menyenangkan bagi konseli, yang sebelumnya mungkin diabaikan, tidak disadari sepenuhnya, dan tidak dianggap ada.
- Teknik empty chair dengan menggunakan permainan dialog antara dua kecenderungan yang berlawanan memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf intregasi polaritas-polaritas dan konflik-konflik yang ada pada diri seseorang ke taraf yang lebih tinggi.
- Menggerakkan para konseli ke arah sungguh-sungguh mengalami peran-peran yang mereka mainkan untuk seterusnya, yang acapkali akan menghasilkan penemuan kembali aspek-aspek diri yang otonom.
- Memahami dan memiliki kembali kualitas-kualitas diri konseli yang selama ini terasing atau disangkalnya, dan tidak ingin dialaminya. Menyelesaikan konflik yang berasal dari urusan-urusan yang tak selesai di masa lampau.
- Konseli dapat memperoleh pencapaian kesadaran, yaitu agar konseli menyadari apa yang sedang dikerjakan, bagaimana mengerjakan, dan pada saat yang sama belajar menerima dan menghargai dirinya.
- Konseli dapat memperoleh integrasi pribadi, bahwa klien datang pada konselor sebagai pribadi yang mengalami perpecahan kepribadian, sehingga pribadinya tidak utuh. Sehingga, konselor bertugas membantu klien agar mampu memberikan perhatian dan daya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara layak.
- Konseli dapat memperoleh pencapaian tanggung jawab, terhadap tindakan-tindakan, putusan-putusan, dan reaksi-reaksinya.
- Konseli dapat memperoleh kematangan, yaitu membantu klien untuk tumbuh sehingga ia beralih dari kebergantungan terhadap orang lain menjadi independen
Pendekatan ini memang diperlukan oleh konselor untuk menemukan masalah yang sebenarnya pada konseli. Meskipun demikian dapat pula dilakukan oleh orangtua untuk menemukan persoalan yang sebenarnya didalam diri anak-anak. Sekaligus tentunya dapat membantu anak lebih memahami masalah-masalah dirinya sendiri.
Orangtua dengan demikian bertindak sebagai frustator, yakni mendorong anak supaya lebih bisa mengungkapkan sikap, perasaan, dan pikirannya agar masalah anak bisa diselesaikan dengan teknik ini. Bila orangtua belum siap karena khawatir akan menghambat keberhasilan teknik empty chair, maka segeralah hubungi konselor di sekolah untuk segera bertatap muka dengan anak anda. Demikian ibu, semoga berhasil.[]








