Keteladanan, Kunci Sukses Pendidik

“ Bagaimana bayang-bayang suatu benda akan lurus, jika bendanya bengkok”

Ungkapan tersebut menunjukan pentingnya keteladan dari seorang pendidik (guru/orangtua).  Bahkan yang harus direnungkan adalah seringkali contoh yang baik akan ditiru anak berkurang dari kadarnya, namun contoh yang buruk akan ditiru lebih buruk lagi, sehingga ada ungkapan “Guru makan berdiri, murid makan berlari”

Kita tahu bahwa pendidik bukan hanya sekedar  pentransfer  ilmu, tetapi bagaimana agar terdapat internalisasi nilai dalam diri anak sehingga terealisir dalam kehidupan nyata. Maka tuntutan pendidik tidak hanya memberi pelajaran atau berdiskusi  tetapi lebih penting lagi mengamalkannya, sehingga anak dapat meniru dan mencontohnya.

Nabi kita sebagai guru telah menjadi contoh hidup dan teladan yang baik dari apa yang beliau ajarkan kepada para sahabatnya ?. Tidak ada keutamaan yang dianjurkan melainkan beliau melakukannya, bahkan mendahului yang lain dalam mengamalkannya. Sebaliknya, tidak ada kejelekan yang beliau larang, kecuali beliau orang yang paling jauh darinya.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab : 21)

Pendidik  bukanlah lilin yang menyinari lingkungan namun membiarkan dirinya terbakar. Pendidik  sejati suka menasehati dirinya dengan perkatan " Wahai engkau yang mengajari orang lain, tidakkah pelajaran itu juga berlaku untukmu?”

Allah SWT berfirman : "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. " (Qs. Ash-Shaf 2-3) . Dalam ayat  yang lain "Adakah kamu memerintah manusia untuk melakukan kebaikan dan kalian lupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca kitab. Tidakkah kalian berfikir?" (Qs. Al-Baqarah : 44)

Keteladanan mempunyai pengaruh besar terhadap jiwa anak. Sebab biasanya anak akan meniru orang dewasa yang mereka amati, sedangkan bagi remaja perbuatan orang dewasa bisa menjadi alasan mereka berbuat sesuatu.  Keteladanan juga sekaligus memberi makna bahwa pelajaran yang diterimanya bukan hanya cerita kosong atau teori belaka.

Dengan demikian,  kalau kita menginginkan anak kita disiplin, maka kita harus disiplin terlebih dahulu. Kalau kita ingin anak kita ramah, kita harus ramah dulu, kalau kita ingin anak kita penyayang kita harus penyayang dulu. 

Jadi keteladanan berfungsi ganda.  Pertama bagi  pendidik sendiri berarti amalnya  berpahala dan tidak terkena celaan  hanya bisa berujar tapi tidak  dapat melaksanakan.  Kedua bagi murid sebagai penguat pemahaman bahwa pelajaran itu  bukan sekedar teori. Selanjutnya kepercayaan murid kepada pendidik akan semakin kuat, dan ini modal utama pendidik terhadap murid.

Untuk itu marilah kita instropeksi diri sudahkah kita menjadi pendidik yang sejati dengan bentuk teladan bagi yang lain.

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more