JAR QOBLA DAR WA BAITY JANNATY
Setiap pendidik (orang tua/guru) pasti mengharapkan anak didiknya menjadi anak yang berkualitas dan berakhlak mulia. Faktor yang paling berperan dalam membentuk akhlak anak selain pola didik yang kita terapkan adalah faktor lingkungan. Banyak hadits yang berkaitan dengan hal tersebut diantaranya tentang berteman ibarat bergaul dengan pedagang minyak wangi atau bergaul dengan pandai besi. Begitu juga hadits tentang kualitas keagamaan seseorang dapat diprediksi dari : siapa yang menjadi teman dekatnya. Lingkungan ibarat lahan bagi suatu tanaman. Bibit tanaman yang baik akan tumbuh dengan optimal apabila ditanam di lahan yang subur.
Berkaitan dengan faktor lingkungan, maka ada dua kata kunci yaitu memilih dan membentuk. Pertama memilih. Rosulullah saw bersabda :”jar qobla dar”(tetangga sebelum rumah) itu artinya Rosulullah menyuruh agar kita melihat terlebih dahulu siapa tetangga kita sebelum mencari tempat tinggal. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mengetahui seperti apa lingkungan yang akan kita tempati. Sebagai contoh seorang anak yang tidak mengenal play station (PS), lalu bergaul dengan teman-teman yang menyukai PS maka lama kelamaan anak itu akan ikut bermain dan akan menganggap bahwa bermain PS itu asyik dan menyenangkan. Selanjutnya dia akan dengan senang hati menghabiskan waktunya hanya untuk bermain PS.
Sebaliknya, apabila seorang anak yang tinggal di lingkungan yang anak-anaknya terbiasa beribadah dengan rajin. Ketika adzan mangrib misalnya mereka segera menuju masjid untuk melaksanakan sholat dan mengaji. Mungkin si anak pertama kali enggan, tapi lama kelamaan diapun akan ikut dan terbiasa melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya mengapa kita harus memperhatikan lingkungan di mana kita akan tinggal.
Dalam hal pendidikan formal “Jar qobla dar“ bisa diartikan lihat dulu lingkungan sekolahnya sebelum memasukan anak ke sekolah tersebut. Apabila di lingkungan tersebut guru dan muridnya berkualitas, maka kita bisa berkeyakinan bahwa anak kita juga akan baik.
Kedua membentuk. Kita sering menyalahkan lingkungan padahal kita bagian dari lingkungan itu sendiri. Contohnya jika kita berada dalam lingkungan yang kotor, masyarakatnya kurang ramah kemudian kita menggerutu dan menyalahkan keadaan tersebut. Kemudian suatu saat kita masuk ke sebuah masjid yang bersih, masyarakat sekitarnya ramah spontan kita memujinya. Ini menunjukkan kita baru sebatas pengguna bukan pembentuk.
Mengapa kita tidak membentuk lingkungan kita sendiri agar menjadi lingkungan yang didambakan semua orang.
Cita-cita “Baity jannaty” akan terwujud jika dibentuk oleh penghuni rumah itu sendiri. Membentuk lingkungan agar baik memiliki makna sekaligus menjaga, mempertahankan dan mengatasi bila ada keburukan. Kita tahu bahwa jika petani menanam padi biasanya juga tumbuh rumput liar di sekitarnya, bahkan juga ada hama dan penyakit. Walaupun bibit tanaman baik, lahannya subur namun ketika rumput dibiarkan dan hama tidak dibasmi, maka padi tidak akan tumbuh dengan baik dan hasilnyapun tidak optimal.
“Sekolahku adalah surgaku” dapat terwujud jika semua guru, murid dan orang tua berusaha mewujudkannya. Kebaikan kecil yang terus menerus harus dihargai dan sangat menentukan terciptanya lingkungan yang islami. Contoh, mengambil bungkus permen yang berserakan kemudian membuangnya ke tempat sampah, selalu menebarkan senyum dan salam pada murid, teman, atau tamu, saling menasehati dan mengingatkan agar anak makan dengan adab islam, berwudlu dengan tertib, segera mendirikan sholat saat mendengar adzan, bekerja dengan semangat, rapi dan tertata. Dari hal yang kecil ini semua akan berdampak pada sesuatu yang lebih besar jika kita sabar dan istiqomah menjalankannya.
Pertanyaannya adalah sudahkah kita menjadi pembentuk lingkungan yang baik itu atau hanya sebagai pengguna saja? Wallahua’lam.








