Ingin beruntung? Berdakwalah...

Oleh Qomaruddin, S.Sos. Redaktur Pelaksana Majalah Adzkia Indonesia

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS, Al ‘Ashr: 1-3)

INI nih surat yang kalau di Taman Penddikan Al Quran (TPA) paling sering dibaca pas mau pulang ngaji. Biasanya kita membaca sambil membayangkan habis ngaji mau ngapain, mau main apa bareng teman-teman? Sampai-sampai kita melewatkan makna surat ini bagi kita.

Maksudnya, ternyata nih ustadz-ustadzah di TPA ingin agar hidup kita tidak merugi, artinya beruntung di dunia dan beruntung pula akhirat. Bahagia di dunia terus bahagia pula di akhirat. Siapa sih yang nggak kepingin? Karena itu ikuti uraian berikut ini.

Melalui surat Al ‘Ashr, Allah SWT telah bersumpah bahwa kerugian benar-benar menimpa setiap manusia. Kerugian itu benar-benar nyata, dan tidak ada yang bisa menahannya karena kerugian itu datang dari Allah penguasa semesta alam. Nah lho, gawat kan!

Tapi tak usah khawatir, kerugian itu akan datang kepada siapapun dari kita kecuali pada manusia yang berhasil memiliki tiga kunci keberuntungan, dan tiga kunci ini tidak bisa digunakan terpisah. Diantaranya adalah beriman, mengerjakan amal shalih, dan memberi nasihat.

Bila merujuk kepada surat Al ‘Ashr maka ketiga kunci ini memang harus dimiliki seluruhnya meskipun prosesnya bertahap. Yakni, mulai dari iman, lalu amal shaleh, dan disempurnakan dengan nasihat.

Eit, jangan mikir berat dulu!

Beriman dalam hal ini adalah penguatan keyakinan pada setiap individu bahwa Allah-lah Tuhan satu-satunya, bahwa Islamlah agama yang haq, Al Qur’an-lah petunjuk yang nyata lagi jelas, dan seterusnya.
Allah berfirman, “Dan mereka beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Baqarah: 4-5)

Tuh kan! Allah menjamin kita bakal beruntung, syaratnya kita mulai raih kunci yang pertama, yaitu beriman, kunci ini merupakan pondasi kebahagiaan.

Harus diingat, kunci pertama ini merupa-kan syarat bagi kunci berikutnya yaitu amal shalih.
Maksudnya adalah amal shalih itu terpancar dari kuatnya iman. Amal shalih merupakan cermin keteguhan hati dan luasnya wawasan seorang remaja mukmin akan Islam dan Al Qur’an. Orang-orang seperti inilah yang akan merasakan ketenangan dan tidak pula bersedih hati.

Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nashrani dan orang-orang Shobiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah : 62)

Begitulah, kalau kita masih mudah berkeluh kesah apalagi gara-gara masalah sepele maka artinya belum mendapat kunci kedua. Remaja beruntung akan terlihat dari sikap optimis yang selalu ditampakkannya.
Sayangnya hanya dengan dua kunci masih belum benar-benar menjaga manusia dari ancaman kerugian. Usaha ini harus dilengkapi dengan aksi nasihat, yakni amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebagaimana hadist Rasulullah Muhammad saw. : Perumpamaan orang-orang yang teguh atas ajaran Allah dan yang meninggalkannya, seperti orang yang berdesak-desakkan di atas kapal. Sebagian berada di atas dan sebagian lagi berada di bawah. Orang yang berada di bawah apabila mengambil air harus melewati orang-orang yang di atasnya. Maka mereka berkata “Bagaimana jika kita lubangi saja bagian yang di bawah kita ini, sehingga tidak usah mengganggu yang di atas?” Jika orang-orang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan niscaya tenggelamlah semuanya. Tetapi jika mencegahnya, selamatlah mereka dan selamatlah semuanya. (HR. Bukhari)

Allah berfirman, “Dan periharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya” (QS. Al Anfal : 25)

Inilah yang menggambarkan remaja Islam adalah mereka yang begitu menyayangi sesamanya sebagaimana mereka menyayangi diri sendiri. Bagaimana tidak, kita jelas tidak akan selamat bila kita membiarkan orang-orang di sekitar kita jauh dari ajaran Islam. Bukankah kerusakan alam yang ditimbulkan oleh segelintir orang akan menimbulkan bencana yang tidak akan memilih korban-korbannya.

Karena itulah remaja yang beruntung adalah mereka yang aktif mengarahkan lingkunganya kepada kebaikan. Remaja yang beruntung adalah yang rajin berdakwah, ia beruntung (karena menyeru kepada kebaikan) sekaligus membawa keberuntungan bagi lingkungannya.

Maka sudah semestinya dakwah menjadi syarat terciptanya masyarakat yang bebas dari mara bahaya. Bukankah melalui dak-wah, manusia mengetahui jalan yang benar untuk mengelola dirinya dan dunia alam semesta sehingga terbebaslah manusia dari kesalahan. Karena dakwah dapat membuka pengetahuan manusia kepada tuntunan Allah Tuhan semesta alam.

Allah menegaskan dalam firmannya “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al ‘Imran : 104)

Meskipun demikian, kerja dakwah bukanlah persoalan yang mudah. Sehingga Allah membesarkan hati manusia melalui firman-Nya agar kita tetap sabar dan teguh dalam mendakwahkan yang haq. “Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Al ‘Imran : 200)

Rasulullah Muhammad saw pun memberikan kabar gembira melalui lisannya, “Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, hingga semut yang ada di dalam lubangnya, dan ikan-ikan di laut, (semuanya) bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)

Maka berbahagialah wahai remaja mukmin yang senang berdakwah, karena seluruh alam mendukungmu. Pahamilah pula bahwa keselamatan dan kesejahteraan dunia berada pada pondasi dakwah, sehingga remaja yang rajin berdakwah adalah para penjaga kehidupan, dan hilangnya dakwah akan benar-benar memancing kesialan. Wallahu a’lam. []

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more