Guru Kunci Ilmu

Oleh : Suhairi Umar, Kabid Operasional Pendidikan LPP Al Irsyad Purwokerto

BEBERAPA bulan yang lalu saya dan rombongan dari Al Irsyad Purwokerto mengadakan studi banding ke sebuah sekolah Islam ternama di Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan ini memang rutin dilakukan untuk menimba ilmu dan pengalaman dari sekolah-sekolah yang kami kunjungi.

Setelah shalat dzhuhur kami beristirahat sejenak di masjid sambil menunggu makan siang. Pada saat itu pandangan saya tidak sengaja tertuju kepada seseorang yang sedang duduk menyendiri di sudut masjid sambil membaca Al Qur’an. Terlihat dari kejauhan rambutnya mulai menyala. Warna putih di rambutnya lebih dominan dari warna hitam tanda bahwa beliau sudah cukup berusia. Saya berinisiatif untuk mendatanginya.
Setelah berkenalan baru saya tahu ternyata beliau adalah ketua komite di sekolah tersebut. Obrolan kami berlangsung cukup hangat dan akrab. Beliau terlihat antusias menjawab pertanyaan yang kami lontarkan, menunjukkan  bahwa beliau menguasai betul seluk-beluk sekolah di mana anaknya belajar itu. Sangat berbeda dengan ketua komite yang saya kenal pada umumnya yang terkesan formalitas dan kurang berperan dalam menyusun program sekolah. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang sekolah mulai dari tujuan pendidikan, kurikulum, buku pelajaran, proses belajar, ujian nasional, sampai kepada ikatan batin antara guru dan murid.

Perbincangan kami lebih menarik ketika beliau mengulas tentang pentingnya hubungan batin antara guru dan murid. Beliau mengilustrasikan hubungan guru dan muridnya seperti sumur dan embernya atau ceret dan gelasnya. Guru ibarat sumur atau ceret sedangkan murid ibarat ember atau gelas sama-sama saling membutuhkan. Air sumur tidak akan jernih dan sehat jika tidak sering diambil dan dimanfaatkan isinya. Begitu juga ceret dan gelas tidak bisa menghilangkan haus dan dahaga jika tidak dituangkan air di dalamnya. Guru ibarat sumur yang penuh dengan ilmu dan pengalaman, sedangkan murid ibarat ember atau gelas yang selalu dan tiada henti  mencari dan memanfaatkan sumber ilmu. Tetapi beliau menggaris bawahi bahwa murid bukan seperti gelas kosong pasif yang hanya menunggu air dituangkan, dan Guru juga bukan seperti sumur statis yang hanya memberi jika diambil airnya. Keduanya harus menjadi benda hidup yang saling mengisi dan saling mencari. Suatu saat murid belajar dari gurunya dan diwaktu yang lain guru mengambil pelajaran dari anak didiknya. Dari interaksi seperti itu terbayangkan  pemandangan yang agung bagaimana hubungan antara guru dan murid yang sesungguhnya. Murid yang sangat menghormati guru dan guru yang selalu terbuka  dalam memberikan ilmu.

Guru Pewaris Ilmu
Guru dalam pandangan umum bangsa Indonesia mempunyai makna sesuai dengan arti kepanjangannya “diguguh dan ditiru”. Dimuliakan karena ilmunya dan ditiru karena tindak tanduknya. Guru mendapat-kan tempat terhormat di mata masyarakat karena keluasan ilmu dan kemulian akhlaknya. Hal ini sangat mirip dengan istilah syekh dalam istilah pendidikan Islam. Kata syekh berasal dari bahasa arab yang mempunyai dua makna secara bahasa syekh adalah orang yang sudah berusia lanjut, sedangkan dalam istilah syekh adalah orang yang tinggi ilmunya dan bijaksana.

Guru dan syekh mempunyai maqom (kedudukan)yang sama dalam sebuah komunitas pembelajar atau lembaga pendidikan. Mereka mendapatkan segala bentuk penghormatan dari manusia dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah jika mereka benar-benar berilmu dan bersungguh-sungguh dalam mengajarkan ilmunya. Dalam Al Qur’an Allah berfirman”Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat”. (al Mujadalah:11)

Hadits Rasulullah juga menjelaskan betapa mulianya orang-orang yang berilmu. Dikisahkan dari Katsir bin Qois, dia berkata:” Suatu hari saya sedang duduk di dalam masjid di Damaskus (Syiria) berdekatan dengan Abu Darda’. Kemudian datang seseorang dari Kota Madinah, lalu  Abu Darda bertanya kepadanya,”Wahai saudaraku, apa yang membuatmu datang ke sini?”Orang itu menjawab,”Saya datang ke sini karena saya mendengar kabar bahwa engkau pernah menyampaikan Hadits ini dari Rasulullah.” Abu Darda berkata,” Apa benar kamu datang kemari hanya untuk mendengar hadits itu dariku, bukan ingin berdagang atau keperluan yang lain?Orang itu menjawab,” Saya datang ke sini bukan untuk berdagang atau keperluan yang lain. Saya hanya ingin membuktikan kebenaran hadits ini.” Abu Darda berkata,” Ya benar, Hadits itu aku yang menyampai-kan. Sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda;” Barang siapa yang keluar mencari ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya ke Surga. Dan sesungguhnya para Malaikat mengepakkan sayapnya (melindu-ngi) karena sangat bangga terhadap pencari ilmu. Dan seluruh penghuni langit dan bumi memintakan ampun kepada Allah bagi para pencari ilmu, hingga ikan di airpun meminta-kan ampun untuknya. Dan keutamaan orang berilmu dibanding orang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas planet yang lain.  Sesungguhnya orang-orang yang berilmu, mereka adalah pewaris para Nabi. Dan Nabi tidak pernah mewariskan Dinar atau Dirham. Akan tetapi mewariskan ilmu. Dan barang siapa mengambilnya, maka sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat berharga.”(H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Guru dan Etos Kerja
Persepsi umum masyarakat kita jika disinggung kata-kata ilmu secara otomatis tertuju kepada figur seorang guru. Guru menurut mereka adalah sumber dan kunci ilmu. Akibat dari persepsi luhur ini sangat berpengaruh terhadap sikap dan penghargaan mereka terhadapnya. Guru mendapatkan kedudukan dan penghargaan yang begitu mulia di sisi Allah swt. dan hambaNya. Maka dari itu orang-orang yang berilmu selayaknya bangga dan bersyukur dengan kedudukan itu. Kebanggaan sebagai guru  selayaknya tercermin dalam sikap, ucapan dan perbuatannya. Guru bukan hanya memberi contoh, tapi juga harus jujur dalam ucapan, dan memiliki etos kerja yang tinggi.

K.H. Toto Tasmara dalam bukunya yang berjudul: “Membudayakan Etos Kerja Islami”, menjelaskan tentang kepribadian seorang muslim, termasuk didalamnya guru. Beliau menjelaskan kata Etos berasal dari bahasa Yunani(ethos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Beliau melanjutkan bahwa sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta agama yang diyakininya. Dalam Islam kata etos bermakna menyempurnakan segala sesuatu dan menghindari segala kerusakan sehingga setiap pekerjaannya diarahkan untuk mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali cacat dari hasil pekerjaannya. Sikap seperti ini dikenal dengan ihsan, sebagaimana Allah menciptakan manusia dalam bentuknya yang paling sempurna(fi ahsani taqwim). Secara tidak langsung Allah telah memberikan inspirasi dan contoh yang baik kepada ciptaanNnya (terutama manusia) tentang maha karya yang luar biasa. Tidak ada ciptaan Allah yang terdapat cacat dan cela sedikitpun, meskipun manusia menganggap sebaliknya. Semua tergantung bagaimana kita bekerja dan berkarya dengan maksimal. Semua ciptaan Allah tidak ada yang cacat atau kurang. “rabbana ma khalaqta hadza batilan subhanak”.[]

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more