Filsafat Akhlak Raghib Al Isfahany

Oleh : Ibnu Rochi Syakiran, Lc

Rasulullah saw bersabda: " Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR Muslim).

Islam adalah agama yang sempurna yang mencakup tiga pilar, aqidah, syari'ah, dan akhlak.  Jika islam adalah sebuah pohon, maka aqidahnya adalah akar-akar yang menghujam ke tanah, sedangkan buahnya adalah akhlak yang mulia. Syari'ah adalah pagar yang melindungi akhlak mulia ini dari tiupan angin kencang agar tumbuh berseri.

Risalah para nabi adalah risalah akhlaq, jika kita melihat kembali sejarah nabi-nabi sebelum nabi Muhammad saw, mereka memiliki kelebihan dalam akhlak tertentu sehingga menempatkan mereka pada posisi yang tinggi di mata Allah. Nabi nuh dengan semangat dakwahnya, nabi Ibrahim dengan tauhidnya, nabi Musa dengan jihadnya, nabi Sulaiman dengan kebijakannya, nabi Yunus dengan taubat dan istighfarnya, Yahya dengan kesucian jiwanya dan nabi Isa dengan sifat zuhudnya. Adapun nabi Muhammad saw menyempurnakan dan mengumpulkan semua sifat itu pada dirinya, nabi Muhammad tidak mengajarkan akhlak semata, akan tetapi ia menyempurnakan akhlak-akhlak yang telah diwariskan oleh para nabi sebelumnya dan mengumpulkan semua sifat mulia tersebut dalam diri beliau.

Ibnu Hazm berkata : " Barang siapa yang menginginkan kebaikan di akhirat, kebajikan di dunia, perjalanan hidup yang lurus, serta semua akhlak yang mulia, maka hendaklah  ia mencontoh kehidupan sesuai dengan kadar kemampuannya, karena beliau telah melaksanakan semua jenis kebaikan dan perilaku yang baik.

Oleh karena itu ketika kaum nabi Musa melenceng dari akhak nabi Musa serta ajaran Taurat, maka mereka mendapat gelar al maghdub, demikian pula saat kaum nabi Isa menyimpang dari akhlak rasul, mereka mendapat gelar adh-dhallin.

Landasan akhlak Islam

Akhlak mempunyai makna yang lebih luas dari sekedar norma atau etika. Etika atau norma merupakan hasil  pengamatan dari berbagai nilai kebaikan yang berlaku di sebuah masyarakat tertentu pada zaman tertentu yang bisa digunakan untuk masyarakat lainnya di masa selanjutnya, atau tidak cocok digunakan untuk masyarakat lainnya di masa selanjutnya. Etika atau norma mudah sekali dilupakan atau tergerus oleh perkembangan zaman.

Akhlak Islam bersifat abadi dan universal, karena akhlak islam mencakup semua kebaikan yang diwariskan oleh nabi-nabi terdahulu yang kemudian disempurnakan oleh nabi Muhammad saw.  Akhlak Islam bersumber dari 2 hal :

  1. Aqidah tauhid, aqidah tauhid inilah yang dibawa oleh nabi Muhammad saw untuk membebaskan manusia dari perbudakan manusia untuk manusia, aqidah ini dilengkapi dengan syari'at sebagai sarana pendukung. Aqidah tauhid inilah yang menempatkan manusia sesuai dengan tempatnya, tidak direndahkan maupun dikultuskan sehingga melampau batas fitrah manusia.
  2. Iman kepada hari akhir. Iman kepada hari adalah modal utama bagi perilaku seseorang. Sehingga ia mampu untuk mengorbankan semua kebahagaiaan semu dan kesenangan yang semu melampaui berbagai macam kesulitan dan rintangan untuk mencapai surga yang dijanjikan Allah swt.  Setiap orang yang beriman kepada hari akhir yakin bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah swt pada hari kiamat kelak , untuk mempertanggungjawabkan semua amalnya di dunia , jika baik ia akan mendapatkan pahala dan jika buruk ia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Berbeda dengan norma atau etika yang tidak bersumber dari wahyu, semua yang mereka lakukan adalah demi kenyamanan hidup di dunia semata, entah hidup yang teratur, damai, sejahtera ataupun ketenangan hati, dan itu semua akan berakhir manakala kehidupannya berakhir.

Oleh karena itu para ulama muslim menurut pendapat Raghib Al isfahany selalu berusaha mencari solusi dari setiap krisis moral ataupun etika yang terjadi masyarakat melalui berbagai macam tafsir dari ayat-ayat al qur'an dan sirah nabi Muhammad saw, karena semua ajaran islam berbicara tentang manusia untuk membawanya menjadi manusia yang mempunyai akhlak yang mulia dan layak mendapatkan gelar khalifatullah fil ardh. Beliau menegaskan bahwa kemerdekaan atau kebebasan manusia akan benar-benar terwujud dengan menjalankan semua aturan – aturan yang ada dalam ajaran Islam. Beliau menambahkan bahwa tingkatan terendah akhlak islam adalah berusaha mencari yang halal dan menjauhkan diri dari yang haram.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna.

Manusia diciptakan Allah terakhir kali setelah Allah menciptakan Malaikat, Jin , Hewan Tumbuhan serta semua yang ada di langit dan di bumi, sehingga manusia menjadi makhluk yang paling sempurna, sehingga ia bisa menjadi makhluk yang layak hidup di alam dunia, dan juga alam akhirat, dialah yang mampu menguasai dunia ini dengan segala kemampuan yang diberikan Allah swt. Dalam Surat At Tiin Allah berfirman : " Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia manusia dengan bentuk yang paling sempurna".

Menurut Raghib Al isfahani, manusia diciptakan dari dua unsur, unsur jasad yang bisa  dilihat oleh mata kita, dan unsur jiwa yang dapat dilihat oleh mata hati dan nurani kita. Selain itu manusia juga dilengkapi oleh akal, ilmu pengetahuan, kemampuan untuk berkreasi, daya nalar, dan kemampuan untuk meningkatkan diri.

Dari kelebihan inilah maka Allah memberikan tugas yang berat kepada manusia ketika manusia bisa menunaikan tugasnya dengan baik maka ia lebih baik dari para malaikat, jika ia tidak bisa menunaikan tugasnya, maka ia lebih rendah dari binatang ternak.  Tugas tersebut adalah 1) menempati bumi dan memakmurkannya, allah swt berfirman dalam QS Hud : 61 : " Dan Dialah Allah yang telah menempatkan kalian (wahai manusia) di bumi." 2)ibadah menyembah hanya kepada Allah 3) khalifah di bumi.

Perbedaan manusia dalam mencapai derajat Khalifah di bumi.

Sebagaimana disinggung oleh Raghib Al Isfahany di atas bahwa manusia mempunyai potensi untuk berubah untuk menjadi lebih baik karena Allah memberinya bekal dan jalan untuk menempuhnya

Perubahan akhlak pada setiap manusia tidaklah sama, ada yang cepat ada juga yang lambat. Meskipun demikian semua mempunyai potensi untuk berubah menjadi lebih baik.

Adapun hal-hal yang mempengaruhi tingkat kecepatan perubahan akhlak , raghib al Isfahany merangkumnya dalam 7  faktor :

  1. Pertama , factor penciptaan : Rasulullah bersabda : " Sesungguhnya Allah menciptakan dari seluruh saripati tanah yang ada di bumi. Adapun keturunannnya Allah menciptakan mereka sesuai dengan kadar tanahnya, ada yang putih, hitam, merah atau campuran dari itu semua, ada juga yang berteperamen lunak, sedih atau diantaranya, ada juga baik dan ada juga yang buruk atau dianatarnya."

Raghib Al Isfahany menjelaskan unsur tanah inilah menjadikan tabiat atau karakter setiap orang berbeda, ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang pemarah ada juga yang penyabar dan lain sebagainya. Faktor inilah yang sulit untuk dirubah tetapi sangat mungkin untuk dikendalikan tinggal bagaimana orang tersebut menahan hawa nafsunya untuk tunduk dalam syariat Islam.

  1. Kedua, faktor keturunan, rasulullah bersabda : "Pilihlah pasanganmu yang terbaik". Gen seorang ayah atau seorang ibu akan turun kepada anak-anaknya. Sifat atau karakter orang tua akan menurun kepada anaknya. Jika orang tuanya berperangai keras, maka anaknyapun berperangai keras.
  2. Ketiga , faktor keluarga, seorang anak yang tumbuh dikeluarga yang berakhlak baik  maka akan mudah untuk melakukan sesuatu yang baik. Karena ia melihat ayah dan ibunya juga melakukan hal yang sama, akan tetapi anak yang tumbuh dikeluarga yang tidak berakhlak baik, maka kemampuan untuk merubah dirinya berakhlak yang baik membutuhkan waktu yang lama.
  3. Keempat faktor makanan, makanan yang dikonsumsi oleh seseorang akan mempengaruhi perilakunya. Imam Ar razi menyatakan bahwa : setiap makanan yang dikonsumsi akan menurunkan perangai kepada orang yang mengkonsumsi. Babi adalah binatang yang berperangai buruk , senang melampiaskan nafsunya kepada siapa saja, oleh karena itu babi diharamkan agar perangainya yang buruk  tidak menular kepada manusia. Ibnu khaldun memberikan komentarnya : " Orang-orang Arab makanan utamanya adalah unta, sehingga perangai mereka kasar dan keras.  Orang-orang romawi makanan utamanya kuda, sehingga perangai mereka jahat. Sedangkan orang-orang perancis makanan utamanya adalah babi, sehingga mereka senang berbuat lacur."
  4. Kelima, faktor pendidikan, pendidikan dan pembiasaan. Anak yang terbiasa dididik dengan akhlak yang baik, maka ia akan mudah melakukan hal-hal baik lainnya. Dan disaat lalai ia mudah untui diingatkan dan diberi nasehat.
  5. Keenam, faktor lingkungan masyarakat, komunitas yang baik akan mempengaruhi perilaku seseorang, seseorang yang hidup dalam lingkungan yang tidak baik akan membutuhkan waktu yang lama untuk keluar dari perilaku dan kebiasaan yang berlaku di  komunitas di mana ia berada.  
  6. Ketujuh, faktor motivasi,  motivasi yang dimaksud adalah motivasi untuk berperilaku yang baik. Seseorang  yang berasal dari keluarga yang baik, keturunan yang baik, pendidikan yang baik, dan lingkungan belum tentu menjadi orang yang berakhlak baik jika, motivasinya kurang. Motivasi yang tinggi untuk mensucikan dirinya dari akhlak yang buruk dan menghiasi dirinya dengan ilmu dan amal, akan menjadi pelengkap yang menunjang perubahan perjalanan hidup menjadi khalitaullah filardh.

 

Fungsi ibadah dalam Akhlak Manusia

Raghib al Isfahany mengartikan ibadah dengan  : " sesuatu perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan menentang syahwat badaniyyah, bersumber dari niat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan mentaati semua perintahnya."

Ibadah dalam konteks ini berfungsi sebagai kontrol bagi fitrah manusia sebagaimana ditunjukkan dalam QS  Al Baqarah : 138  yang artinya : Shibghah Allah swt, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah swt? Dan kepadanyalah kami menyembah."

Shibghah yang dimaksud disini adalah akal manusia yang membedakannya dengan binatang,  dan membawanya kepada derajat keimanan tertinggi. Beliau menegaskan : " Bagaimana mungkin shibghah Allah akan hilang manakala kita selalu menguatkannya dengan ibadah yang kita lakukan, ibadah tersebut bisa menghapus karat yang ada pada hati kita, hingga sinar hidayah kembali bercahaya."

Ibadah yang dilakukan seseorang akan mencapai tingkatan yang paling tinggi, manakala ia mengerjakannya dengan penuh kerelaan hati, cinta dan mengharap ridha Allah swt sehingga hati menjadi lapang, ia tidak lagi melawan hawa nafsunya untuk menjalankan ibadah tersebut. Oleh karenanya rasulullah saw bersabda: "apabila engkau bisa melakukan ibadah untuk Allah dengan penuh rasa cinta, keyakinan dan kerelaan hati, maka lakukanlah, apabila tidak maka bersabarlah terhadap apa yang kamu tidak suka (saat melakukan ibadah), kamu akan mendapatkan kebaikan yang sangat banyak..' []

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more