Doaku untukmu Ibu

Karya : Annisa Amani Mufida, Murid IV Amanah SD Al Irsyad 02 Purwokerto

 
“Uhuk.uhuk..uhuk..”
 
SUARA batukan ibu yang keras, selalu terdengar di telinga Acha. Acha adalah anak ibu satu-satunya, Acha sangat sayang dengan ibunya yang sudah tua. Ibunya selalu banting tulang demi kehidu-pannya dan Acha. Sebagai pem-bantu rumah tangga, ibu selalu giat bekerja. Acha sering kasihan dengan ibunya jika pulang kerja ibu selalu berwajah lesu dan lemas. Tapi ibu, selalu menutupi kelelahannya di depan Acha.
 
Setiap pulang kerja, Acha selalu memijat kaki ibunya. Karena Acha mengerti keadaan ibunya yang pasti lelah.
 
“Ibu, bagaimana jika Acha berhenti sekolah saja? Bukannya Acha tidak mau pintar, tapi ini untuk mengurangi beban ibu.” Ujar Acha sambil memijat khaki ibunya.
 
“Jangan nak! Ibu rela bekerja sekeras apapun, tapi kamu harus tetap sekolah. Umurmu masih panjang, pergunakanlah waktu itu baik-baik. Ter-utama untuk menuntut ilmu dan ber-ibadah.” Acha tersenyum bahagia mendengar jawaban ibunya.
 
Suatu hari saat ibu akan bekerja, Acha melihat wajah ibu seperti sedang tidak sehat.
 
”Ibu, ibu sakit ya? Ibu tidak usah bekerja dulu saja, biar Acha yang akan memberitahu kepada majikan ibu bahwa ibu sedang tidak sehat”
 
“Tidak apa-apa nak, paling sebentar lagi juga sembuh, sudah tidak usah dipikirkan. Ya sudah ibu bekerja dulu ya,Assalamualaikum”
 
“Waalaikumussalam” jawab Acha.
 
Acha terdiam dan memandang ibunya yang berjalan mulai jauh dari pandangannya. Acha ingin sekali mem-bantu ibunya, setelah berfikir lama Acha mendapatkan ide, ia ingin melamar men-jadi karyawan disebuah toko buku. Acha segera berganti pakaian dan menuju toko buku Intan. Dia sangat gembira saat diteri-ma menjadi karyawan di toko buku Intan. Setiap pulang sekolah,Acha langsung menuju toko buku Intan untuk bekerja. Setiap ibu menanyakan “Kenapa pulang-nya lebih sore?” terpaksa Acha harus berbohong, dengan alasan ada bimbel.
 
Seminggu kemudian, Acha menda-patkan gaji sebaggai hasil usahanya selama ini, walaupun tidak terlalu banyak, tapi Acha bahagia bisa membantu ibunya mencari uang. Ia berjalan dengan riang dan senyum yang terus ia pajang. Saat sudah dekat dengan rumahnya, ia mendengar suara rintihan dan tangisan. Ia mulai heran  dari manakan asal suara itu? Lalu ia berjalan memasuki rumahnya.
 
Tidak terasa amplop isi gaji yang ia dapatkan tadi terjatuh, air mata mengu-cur semakin deras, ketika ia melihat kain kafan menutupi jenazah ibunya. Ia lalu berkata sekeras mungkin pada dunia “JANGAN TINGGALKAN AKU IBU !!!!!”
 
Tepat pukul 17.00 sore, Acha masih terus menangis melihat tubuh ibunya yang mulai dimakamkan. ia terus dipeluk erat oleh tetangga dekatnya. Dan dia terus mengucapkan doa-doa untuk ibunya yang sudah tenang di alam sana.[]

Kunjungi website kami: Read more     Amankan uang anda ke DINAR Read more     Info Terbaru Lowongan Guru Read more