Anak Jalanan Juga Butuh Kasih Sayang
Oleh: Chandrika Ayu Purbasari
Murid kelas 5 Al Battani, RSDBI Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto.
LIBUR semester telah datang, aku bersama keluargaku merencanakan liburan ke Jakarta. Pada hari Sabtu aku berangkat ke Jakarta, di sana selain liburan kami juga akan bersilaturahmi ke rumah tanteku yang baru saja datang umroh.
Akhirnya aku sampai juga di hotel wijaya yang telah dipesan oleh ayahku kemarin. Sesampainya di sana aku dan keluargaku langsung beristirahat.
Teng.. tong, itu adalah tanda kalau hari sudah pagi. Rencananya aku dan keluargaku akan ke rumah tanteku pagi ini, lalu kami akan jalan-jalan mengelilingi kota Jakarta.
Setelah kami sekeluarga sarapan, kami langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah tanteku. Tepat pada pukul 09.00 aku berangkat menuju rumah tanteku. Setelah sampai di sana, ayah dan ibuku langsung mengobrol bersama tanteku, sedangkan aku bermain bersama adik sepupuku yang bernama Lina.
Betapa asyiknya kami bermain sehingga waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Ternyata Omku ingin mengajak kami ke Sea World, lalu kami akan pergi ke Kelapa Gading Square, di sana ibu, dan tanteku ingin berbelanja.
Waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah berada di Kelapa Gading Square. Di sana kami sempat berpisah. Aku berjalan ke sana kemari. Eh, tiba-tiba saja aku tabrakan dengan anak seusiaku, dia sangat kucel, dan sepertinya dia adalah anak jalanan. Aku pun menolongnya. Air mata mengalir di pipinya, lalu aku bertanya padanya
“Eh, kamu kenapa?”
“Minumku...” Ternyata aku telah menjatuhkan satu gelas teh miliknya.
“Maafkan aku ya, aku tak sengaja. Aku belikan lagi yah!” Aku pun berjalan mencari minuman untuknya.
Setelah aku kembali menemuinya aku bertanya kepadanya
“Nama kamu siapa?”
“Nama aku Sisil”.
“Mengapa kamu ada di sini?”
“Ceritanya panjang sekali, oh iya nama kamu siapa?”
“Aku Ayu”. Tak sengaja aku melihat tangannya, aku langsung kaget melihatnya, karena tangannya sangat kecil dan semua ototnya terlihat. Karena aku sangat penasaran aku coba bertanya tentang tangannya itu
“Sil aku boleh tanya sesuatu enggak?”
“Boleh, kamu mau tanya apa?”
“Ehm... tanganmu kenapa?”
“Oh ini”. Ia menunjuk tangannya
“Kata majikan aku, waktu aku lahir ibuku membuang aku ke sungai depan rumahku. Lalu majikannku mengatahui kalau ada anak bayi yang sedang menangis, majikanku pun mengambilku.Setelah aku dewasa aku mengalami sakit leukimia yang sangat ganas. Aku tidak bisa membayar semua biaya rumah sakit, dalam keadaanku yang belum sembuh aku pun pulang bersama majikanku. Pagi-paginya aku di minta majikanku untuk meminta-minta di depan supermarket ini. Sebenarnya aku ingin sekali menjalani pengobatan tetapi aku tidak memepunyai biayanya, makan aja aku susah, apalagi untuk membayar rumah sakit" tuturnya. "Selama ini aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, aku kira majikanku adalah orang yang baik hati. Eh, malah majikanku adalah seorang yang jahat”. Katanya panjang lebar.
“Emang kamu tinggal di mana?”
“Aku tinggal di sebuah rumah kardus, jaraknya 500 m dari hotel Wijaya”.
“Hah…hotel wijaya?”
“Iya, memang ada apa?”
“Itu adalah tempat aku tinggal selama liburanku, aku boleh gak main ke sana?”
“Jangan. Majikanku itu galak sekali, bagaimana kalau kita ketemuan di taman sebelah hotel Wijaya?”
“Ya sudah, tidak apa-apa kok.”
Tiba-tiba saja ada sesosok orang yang sudah tidak asing lagi buatku, ternyata dia adalah ibuku.
Di mobil aku menceritakan semua yang telah terjadi tadi. Aku meminta permintaan kepada ayahku kalau aku akan memasukkan anak itu ke panti asuhan dan membayar semua pengobatan dan terapi untuk Sisil. Ayahku menyetujuinya dengan senang hati.
Pagi-pagi aku langsung menuju ke taman sebelah hotelku, ternyata Sisil sudah berada di taman itu. Sesampainya di sana aku langsung menutup mata Sisil dengan selendang milik ibuku. Ayahku yang sudah siap mengantarkan Sisil langsung berangkat menuju panti asuhan.
Di depan panti asuhan, bu Linda, seorang ibu bagi anak-anak yatim maupun yatim piatu, sudah menyambut kedatangan Sisil. Begitu terkejutnya Sisil melihat semua yang telah aku beri.
“Yu, aku mau ngucapin makasih banget sama kamu. Oiya bagaimana dengan majikanku?”
“Tenang ayahku sudah membereskan semuanya kok”.
Lalu aku dan ayahku pulang kembali ke hotel. Sehari telah aku lalui dengan menolong Sisil. Besoknya aku menjenguk Sisil di panti asuhan. Ketika aku sampai di sana bu Linda langsung menangis di hadapanku dan ayahku. Ia berkata.
“Ayu, tadi pagi Sisil mimisan ibu telah menyumbatnya dengan kapas tetapi mimisannya tidak berhenti sehingga ibu membawanya ke rumah sakit terdekat”.
“Ya udah sekarang kita ke sana. O iya, Sisil di sana sama siapa”.
“Dia di sana sama Mina temannya”.
“Oh..”
Lalu kami pun berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Sisil dalam keadaan kritis. Aku membujuknya agar dia bangun. Alhamdullillah dia terbangun. Satu minggu telah berlalu, sebelum operasi Sisil berkata padaku.
“Ayu, kamu adalah malaikat yang pernah aku temui. Dengan kamu aku bisa merasakan kasih sayang walaupun aku tidak merasakannya dengan ibu kandung aku sendiri, yang penting sebelum aku pergi ke surga aku sudah merasakan kasih sayang, dengan kamu juga aku bisa bertahan hidup, aku benar-benar berterimakasih padamu.”
“Bila malam hari ada bintang yang bersinar, itulah aku. O iya, doakan aku ya, sekarang aku akan melawan penyakitku”.
“Pasti Sil.” Air mata tiba-tiba mengalir di pipiku.
Setelah aku dan bu Linda menunggu beberapa jam, dokter keluar dari ruang operasi, dokter berkata.
“Maaf bu Linda, Sisil sudah tidak bisa ditolong lagi. Sel darah putih yang ada di dalam tubuhnya sudah sangat banyak, dan sel tersebut sangat ganas sehingga saya tidak bisa menanganinya lagi”.
Malam harinya aku duduk di taman tempat aku memberi kejutan untuknya, kutatap langit di atas sungguh ada bintang yang sangat indah, dia bersinar mengingatkanku pada Sisil. []








