Agar Tak Patah Arang di Tengah Ramadhan
Oleh : Ibnu Rochi Syakiran, Lc
TAK terasa detik demi detik telah berlalu, hari demi hari pun berganti, ramadhan yang kita jalani telah sampai di tengah perjalanan. Ada yang tetap semangat menjalani semua ibadah-ibadah, ada yang terseok-seok dan adapula yang telah hilang semangat menjalani ramadhan.
Rumah-rumah Allah swt yang diawal-awal ramadhan penuh sesak dengan jama’ah shalat tarawih dan subuh, kini hanya tinggal beberapa orang yang membaca al qur’an, shalat subuh berjama’ah. Fenomena seperti terjadi tahun demi tahun. Hanya orang yang benar-benar sabarlah yang akan bisa tetap istiqamah di bulan Ramadhan.
Inilah yang disebut dengan futur atau patah semangat. Sebagaimana diketahui bahwa iman seseorang terkadang naik dan terkadang turun. Menjadi hal yang lumrah apalagi kadang semangat ibadah kita menjadi turun, akan tetapi yang tidak lumrah adalah jika kita tidak bias membangkitkan kembali semangat ibadah kita yang telah luntur tersebut. Rasulullah saw bersabda : “ setiap manusia pernah melakukan sebuah kesalahan, akan tetapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang mampu bangkit dari kesalahannya dan bertaubat darinya.”
Ali ra berkata ; “ sesungguhnya jiwa itu adakalanya maju dan adakalanya mundur, jika dalam keadaan semangat maka kerjakanlah semua ibadah yang ia mampu, dan jika dalam keadaan patah semangat, maka kerjakanlah sesuatu yang wajib saja.”
Ibnul qayyim al jauziyah menyatakan : “ setiap orang yang beribadah pasti mengalami masa-masa future, maka jika future tersebut adalah sebagai rehat dan menyegarkan semangat untuk kembali menjalan beribadah, diharapkan ia segera kembali bersemangat selama ia tidak meninggalkan kewajiban-kewajibannya dan jatuh kepada perbuatan maksiat.”
Lalu apakah kita kan diam saja manakala kita jatuh di lembah future tersebut?, para ulama memberikan beberapa nasehat agar kita bias keluar dari lembah future sehingga tidak terjatuh kepada perbuatan yang dibenci allah swt, diantaranya adalah :
Merefresh niat beribadah, adakalanya karena seseorang telah terbiasa untuk berpuasa dan shalat malam, ia kehilangan arah dan menjadikannya sebagai rutinitas belaka. Ia mengerjakan semua ibadah di bulan ramadhan, hanya sekedar menggugurkan kewajiban bukan lagi mengharapkan pahala dari Allah swt. Ia harus kembali menilik relung hatinya, apa yang ia inginkan dari ibadahnya apakah pujian dari orang lain, ataukah memberikan persembahan yang terbaik untuk Allah swt, sehingga layak menjadi penghuni surga Ar Rayyan yang telah dijanjikan. Ia harus mengingat kembali bahwa Allah akan memberikan pahala yang berlipat-lipat diluar jangkauan hitungan manusia bagi hambanya yang melakukan ibadah dengan ikhlash. Rasulullah saw bersabda ; “ Barang siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan jauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh masa. “ (HR Tirmidzy)
Mencari bentuk ibadah yang bervariasi di bulan Ramadhan, ada banyak sekali ibadah-ibadah yang dianjurkan oleh Allah dan rasulnya, seperti : membaca Al Qur’an, memberikan hidangan berbuka, bakti social, shalat tarawih, duduk di masjid setelah subuh sampai terbit matahari, shalat syuruq dua reka’at dan lain sebagainya. Hendaknya dilakukan secara bervariasi dan tidak sekaligus, sehingga tidak menimbulkan kebosanan dan akhirnya jatuh kepada future.
Mencari masjid yang lain saat shalat tarawih ataupun shalat subuh dan shalat fardhu lainnya, jika memungkinkan. Adakalanya seseorang ketika shalat tarawih disatu tempat selama satu bulan penuh kadang merasa bosan. Meskipun ada sebagian orang yang menginginkan masjid dimana bacaan imamnya adalah yang paling baik, akan tetapi untuk memberikan semangat baru, maka tidak ada salahnya jika melakukan safari tarawih di masjid-masjid yang berbeda sehingga muncul semangat yang baru.
Berkumpullah dengan orang yang masih bersemangat ibadah di sepertiga terakhir di bulan ramadhan, dengan beri’tikaf, shalat tarawih dan tadarus Al Qur’an. Rasulullah saw bersabda : “ sesungguhnya seseorang bersama agama temannya. Maka hendaknya seseorang memperhatikan siapa yang akan menajdi temannya.” (HR Muslim). Seseorang yang melihat temannya di dalam satu masjid berguguran satu demi satu, mau tidak mau pasti ia kan terpengaruh untuk malas beribadah, karena bagaimanapun seseorang akan bertambah semangatnya jika melakukan ibadah bersama-sama. Seandainya ia bisa mengajak saudara-saudaranya sesama muslim di masjid tersebut untuk mengadakan I’tikaf, meskipun hanya malam hari saja, maka itulah yang terbaik. Akan tetapi jika ia tidak bisa mengajak temannya, maka tidak ada salahnya ia mencari masjid-masjid yang mengadakan I’tikaf meskipun tidak harus sepuluh hari penuh.
Ingatlah bahwa Allah swt merahasiakan kapan Lailatul Qadar adalah sebagai pemberi semangat bagi kita untuk lebih giat lagi beribadah di penghujung bulan ramadhan, hanya orang-orang terpilih sajalah yang akan mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar. Allah swt berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) keselamatan hingga terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5)
Sepatutnya seorang muslim bersemangat dalam menelusuri suatu malam yang memiliki kedudukan seperti ini, agar mendapatkan keberuntungan dengan pahala yang terdapat pada malam tersebut, mendulang kebaikannya, memperoleh ganjarannya, dan merengkuh berkahnya. Orang yang merugi adalah mereka yang tidak mendapatkan pahala pada malam tersebut. Barang siapa yang melewatkan momen-momen kebaikan, hari-hari tersebarnya keberkahan dan karunia, sedangkan dirinya senantiasa bergelimang dalam dosa dan kesesatan serta asyik dalam kedurhakaan, karena dirinya telah dibinasakan oleh kelalaian dan penyimpangan, kesesatan telah menghalanginya (dari pintu kebaikan), maka betapa besar kerugian dan penyesalan yang menimpanya. Seorang yang tidak bersemangat dalam mencari keuntungan pada malam yang mulia ini, kapankah dirinya akan bersemangat lagi? Seorang yang tidak bertaubat kepada Allah pada malam yang mulia ini, kapankah dia akan bertaubat? Dan seorang yang senantiasa malas dalam melakukan kebaikan di malam ini, maka kapan lagi dirinya akan beramal?
Memperbanyak do’a di sepertiga ramadhan yang terakhir :
Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radliallahu ‘anha, beliau berkata,
Aku berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui waktu malam Al Qadr, apakah yang mesti aku ucapkan pada saat itu?” Beliau menjawab, “Katakanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni (Yaa Allah sesungguhnya engkau Maha pemberi ampunan, suka memberi pengampunan, maka ampunilah diriku ini).” (HR. Tirmidzi nomor 3513, Ibnu Majah nomor 3850 dan dishahihkan oleh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah nomor 3105)
Do’a yang lain adalah : “ Allohumma inni asaluka al-‘afwa wal-‘aafiyah fiddun-ya wal akhirah”
Bukhari telah meriwayatkan dalam Al Adabul Mufrad dan Tirmidzi dalam Sunan-nya sebuah riwayat dari Al ‘Abbas bin Abdil Muththallib radliallahu ‘anhu, beliau berkata:
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku sebuah kalimat yang aku gunakan untuk memohon kepada Allah ‘azza wa jalla.” Maka beliau menjawab, “Mintalah perlindungan kepada Allah!” Selang selama beberapa hari, aku kembali mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku sebuah kalimat yang aku gunakan untuk memohon kepada Allah ‘azza wa jalla,” maka beliau berkata kepadaku, “Wahai ‘Abbas, paman Rasulullah, mintalah perlindungan di dunia dan akhirat kepada Allah!” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad nomor 726, Tirmidzi nomor 3514 dan dishahihkan Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Adab nomor 558)
Demikianlah beberapa nasehat ulama bagi kita semua yang tengah dilanda patah semangat menjelang penghujung bulan ramadhan agar kita tidak jatuh ke dalam lembah future yang dalam dan tidak bisa bangkit kembali. Na’udzubillahi min dzalika. []








